Bank Dunia Pangkas Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026, OECD dan ADB Tetap Optimistis

- Senin, 20 April 2026 | 13:00 WIB
Bank Dunia Pangkas Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026, OECD dan ADB Tetap Optimistis

TVRINews, Jakarta

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 direvisi. Bank Dunia memangkas angkanya, dari 5,0 persen menjadi 4,7 persen. Revisi ini muncul di tengah situasi global yang tidak menentu, dengan ketegangan geopolitik mendorong harga minyak dunia naik-turun.

Namun begitu, tidak semua lembaga internasional pesimis. Pandangan yang lebih cerah justru datang dari OECD dan Asian Development Bank (ADB). Keduanya masih melihat peluang Indonesia tumbuh di atas 5 persen.

Menurut Herry Gunawan, Direktur NEXT Indonesia Center, kondisi ini menunjukkan ketangguhan ekonomi nasional. "Meski tekanan eksternal kuat, fondasi kita masih relatif kokoh," katanya.

Ia mengingatkan, momen ini adalah ujian nyata. "Kita harus objektif menilai. Apakah fundamental ekonomi kita masih kuat, atau justru mulai terpengaruh oleh badai global?"

Pernyataan itu disampaikan Herry dalam keterangannya, Senin (20/4/2026).

Pusat studinya baru saja merilis kajian berjudul "Sinyal Daya Tahan Ekonomi Indonesia". Mereka memakai indikator Composite Leading Indicator (CLI) dari OECD sebagai alat ukur. CLI ini fungsinya mirip radar peringatan dini, untuk mendeteksi pergeseran siklus ekonomi lebih awal.

Nah, hasil pantauan terbaru Maret 2026 menunjukkan CLI Indonesia ada di angka 100,52. Posisi di atas 100 punya arti penting: ekonomi nasional masih di zona ekspansi, atau tumbuh lebih kencang dari tren jangka panjangnya.

"Secara umum, angka ini memberi sinyal bahwa ruang untuk tumbuh di atas 5 persen masih terbuka," jelas Herry.

Dibandingkan beberapa negara besar yang indikatornya melemah, posisi Indonesia dinilai lebih stabil. Tapi jangan buru-buru lega.

Ada catatan kecil yang perlu diwaspadai. CLI mengalami penurunan tipis, dari 100,59 di Februari menjadi 100,52 di Maret. Penurunan sekecil apa pun, menurut Herry, tidak boleh diabaikan. Ini bisa jadi pertanda awal melemahnya konsumsi dalam negeri.

"Ini sinyal awal. Bisa jadi daya beli rumah tangga mulai tertekan," tegasnya.

Sorotannya pada konsumsi rumah tangga sangat beralasan. Kontribusinya terhadap PDB masih dominan, sekitar 53,9 persen. Jadi, jika daya beli masyarakat melemah apalagi di tengah ancaman inflasi dan gejolak harga energi global dampaknya bisa serius.

"Tanpa antisipasi kebijakan yang tepat, perlambatan ini berpotensi menggerus target pertumbuhan," tambah Herry.

Oleh karena itu, NEXT Indonesia Center mendorong pemerintah untuk mencari penyeimbang. Kontribusi investasi dan ekspor, yang saat ini masing-masing sekitar 28,8 persen dan 22,8 persen terhadap PDB, harus dikebut.

"Sinyal CLI masih positif, itu bagus. Tapi kuncinya ada di penguatan investasi dan ekspor. Ekonomi kita tidak boleh terus bergantung pada konsumsi semata," pungkas Herry.


Editor: Redaktur TVRINews

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar