Pasar saham berjangka AS buka pekan ini dengan sentuhan merah. Setelah pekan lalu yang begitu gemilang, sentimen tiba-tiba berbalik. Ketegangan geopolitik yang memanas lagi antara Washington dan Teheran jadi biang keladinya, mengguncang kepercayaan investor dan mendorong harga minyak melambung.
Menurut data dari Investing.com pada Senin (20/4/2026), kontrak berjangka S&P 500 terpangkas 0,8% ke level 7.105,25 poin. Nasdaq 100 ikut melemah 0,6% ke 26.655,75 poin. Sementara itu, Dow Jones berjangka turun lebih dalam, satu persen tepatnya, menjadi 49.168 poin.
Pemicu Ketegangan: Kapal Disita, Negosiasi Mandek
Suasana berubah jadi waspada begitu Iran menyatakan mundur dari putaran kedua negosiasi. Padahal, AS berharap rundingan itu bisa digelar sebelum gencatan senjata sementara berakhir Selasa besok.
Namun begitu, situasi justru makin memanas setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump di hari Minggu.
Ia mengaku pasukan Amerika telah menembaki dan menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran di perairan Teluk Oman.
"AS bisa meledakkan semua pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika mereka gagal menyetujui kesepakatan," tegas Trump, memberikan ancaman yang mempertegas ketegangan.
(Ilustrasi. Foto; Freepik)
Dampaknya langsung terasa. Selat Hormuz jalur vital pengiriman minyak dunia dilaporkan ditutup kembali. Kekhawatiran akan gangguan pasokan pun langsung hidup. Tak heran, harga minyak melesat dalam perdagangan Asia pagi ini. Trader sepertinya mulai mempertimbangkan skenario pasokan global yang lebih ketat, yang berpotensi memicu tekanan inflasi baru.
Lonjakan ini menghentikan periode stabil singkat pekan lalu. Saat itu, gencatan senjata dan dibukanya kembali selat sempat meredakan premi risiko dan memberi angin bagi reli pasar saham global.
Mengingat Pekan yang Gemilang
Memang, Wall Street baru saja mencatat pekan yang luar biasa. S&P 500 dan Nasdaq Composite bahkan berhasil mencetak rekor tertinggi baru, didorong sentimen yang sempat membaik.
Secara keseluruhan, performa pekan lalu sangat kuat. Nasdaq melesat sekitar 6,8%, S&P 500 naik 4,5%, dan Dow menguat lebih dari 3%. Itu adalah kinerja mingguan terbaik mereka dalam beberapa bulan terakhir.
Sekarang, mata investor tertuju penuh pada perkembangan geopolitik. Berita-berita dari Timur Tengah ini diprediksi akan mengendalikan arah pasar dalam jangka pendek. Di sisi lain, kenaikan harga minyak yang berlarut bisa mempersulit perang melawan inflasi dan pada akhirnya, memengaruhi ekspektasi terhadap langkah Federal Reserve ke depan. Situasinya jadi rumit lagi.
Artikel Terkait
Ibu Haru Bersyukur di Depan Prabowo, Putrinya Kini Bisa Sekolah Lagi Berkat Program Sekolah Rakyat
Pangeran Purbaya Dituding Jadi Dalang Perlawanan terhadap VOC hingga Dibuang ke Sri Lanka
Gempa Magnitudo 4,2 Guncang Bener Meriah, Getaran Terasa Hingga Takengon
Jakarta Miliki 3.500 Bioskop, Wagub Rano Karno Sebut Indonesia Jadi Anomali di Tengah Tren Penurunan Global