Pemerintah Targetkan Hentikan Impor Solar Mulai 1 Juli 2026

- Senin, 20 April 2026 | 00:15 WIB
Pemerintah Targetkan Hentikan Impor Solar Mulai 1 Juli 2026

Jakarta – Impor solar bakal benar-benar berhenti mulai 1 Juli 2026. Itulah target pemerintah, yang ingin mengalihkan ketergantungan energi ke dalam negeri. Momentumnya tak lain adalah implementasi program biodiesel 50 persen atau B50, yang mengandalkan kelapa sawit lokal sebagai bahan bakunya.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menyampaikan kabar ini. Menurutnya, tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan masuknya B50 ke dalam sistem distribusi energi kita.

"Solar tidak kita impor lagi. Pada 1 Juli 2026 kita stop seiring masuknya B50,"

kata Amran, seperti dikutip dari Antara, Minggu (19/4/2026). Pernyataannya itu disampaikan di hadapan sivitas akademika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Di sana, Amran menjelaskan langkah ini sebagai upaya nyata untuk lepas dari jerat pasokan energi fosil impor. Memang, pemanfaatan minyak sawit mentah atau CPO untuk biofuel bukan hal baru. Tapi kali ini, ambisinya lebih besar. Bukan cuma untuk biodiesel, riset juga digenjot agar sawit bisa diolah jadi bensin dan etanol secara massal. Potensinya masih luas.

Nah, selain bicara energi, kunjungan Amran ke ITS juga menyoroti inovasi lain yang tak kalah menarik: traktor listrik.

Amran menyempatkan diri meninjau berbagai riset teknologi pertanian di kampus tersebut. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah prototipe traktor bertenaga listrik. Alat ini diklaim lebih efisien ketimbang mesin diesel konvensional, plus ramah lingkungan.

Menteri langsung memesan 10 unit untuk uji coba di lapangan. Harganya disebut-sebut cuma separuh dari traktor biasa di pasaran. Yang jelas, dengan beralih ke listrik, petani tak perlu lagi pusing dengan ketersediaan solar, terutama di daerah-daerah terpencil. Biaya operasional pun bisa ditekan.

Langkah-langkah ini, dari stop impor solar sampai adopsi traktor listrik, sepertinya ingin disatukan dalam satu narasi besar: kemandirian. Baik di sektor energi maupun alat pertanian. Tinggal nanti eksekusinya saja di lapangan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar