Industri kendaraan niaga di Indonesia lagi naik daun. Investasi mengalir, produksi lokal makin kencang, dan teknologi hijau jadi perhatian serius. Salah satu pemain yang terlihat serius menggarap pasar ini adalah Hino dari Jepang. Komitmen mereka untuk memperkuat ekosistem otomotif nasional kembali ditegaskan dalam sebuah pertemuan penting di Jakarta.
Pertemuan itu menghadirkan Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dan jajaran pimpinan tinggi Hino. Dari Jepang, hadir Satyakam Arya selaku President & CEO. Sementara dari operasional Indonesia, hadir Shingo Sakai dari PT Hino Motors Sales Indonesia dan Hiroshi Terawaki dari PT Hino Motors Manufacturing Indonesia.
Pembahasannya cukup luas. Mulai dari perkembangan terkini industri kendaraan niaga, peran strategis pabrik Hino di sini, sampai peluang menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi untuk diekspor ke berbagai negara. Intinya, Hino mau tanam modal lebih dalam lagi di sini.
Dan investasi mereka sejauh ini memang tidak main-main. Sudah mencapai USD 112,5 juta! Kapasitas produksinya pun bisa menembus 75.000 unit per tahun. Aktivitas manufaktur ini juga nyata menyerap tenaga kerja sekitar 1.547 orang yang tentu saja punya andil besar dalam menjaga denyut industri nasional.
Menariknya, ambisi Hino tidak berhenti di pasar domestik. Mereka membidik Indonesia jadi hub ekspor global untuk kendaraan niaga. Dengan fasilitas produksi dan rantai pasok yang terus dibenahi, potensi Indonesia untuk jadi basis produksi kendaraan komersial dinilai sangat besar.
Di sisi lain, upaya meningkatkan nilai tambah dalam negeri juga terus digenjot. Soal Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), angka Hino bervariasi antara 44% sampai 57% untuk berbagai tipenya. Bahkan, enam tipe kendaraan mereka seperti seri Hino 300 115 SD dan 136 HD sudah mencatat TKDN fantastis, di atas 71%! Ini jelas angin segar bagi industri komponen lokal.
Tak cuma soal mesin dan sasis, Hino juga menggarap sisi sumber daya manusia. Mereka punya program vokasi, menyediakan lab, dan berkolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan. Tujuannya satu: meningkatkan kualitas tenaga kerja otomotif Indonesia.
Pemerintah sendiri terus mendorong kolaborasi semacam ini. Sinergi antara industri dan pemangku kepentingan diharapkan bisa mengoptimalkan kapasitas produksi nasional. Kalau semua berjalan baik, daya saing industri otomotif kita di kancah global pasti ikut terdongkrak.
Shingo Sakai, Presiden Direktur HMSI, menutup dengan penekanan pada layanan.
"Langkah strategis ini memperkuat posisi kami. Tapi fokus kami bukan cuma produksi. Layanan purna jual yang menyeluruh itu kunci. Dengan jaringan layanan dan suku cadang yang luas, plus dukungan teknis profesional, kami ingin pastikan kendaraan pelanggan selalu dalam performa terbaik untuk mendukung produktivitas mereka," jelasnya.
Artikel Terkait
Tiga ABK Indonesia Korban Kebakaran Kapal di Pakistan Segera Dipulangkan
Satu Warga Tewas, Empat Dirawat Usai Diduga Keracunan Kepiting di Minahasa Selatan
Hashim Djojohadikusumo Desak Polri dan Kejagung Tegakkan Hukum Atas Gangguan Ibadah
Ekspor Unggas Indonesia Tembus Rp18,2 Miliar di Kuartal I 2026