Kirab Pusaka Nusantara Perdana Digelar di Candi Borobudur

- Minggu, 19 April 2026 | 09:30 WIB
Kirab Pusaka Nusantara Perdana Digelar di Candi Borobudur

Di bawah bayangan megah Candi Borobudur yang mulai disinari matahari pagi, ribuan orang berkumpul. Mereka bukan sekadar pengunjung biasa. Mereka adalah penjaga tradisi. Pada Senin, 19 April 2026, Kementerian Kebudayaan RI menggelar Kirab Pusaka Nusantara untuk pertama kalinya di kawasan situs warisan dunia itu. Acara ini sekaligus merayakan Hari Keris Nasional dan Hari Warisan Dunia.

Menurut Menteri Kebudayaan Fadli Zon, ini momen bersejarah. Antusiasmenya terasa. Baginya, Borobudur bukan cuma tumpukan batu kuno. Ia adalah warisan yang hidup, bernapas, dan terus bergerak karena masyarakat di sekitarnya.

"Ini pertama kalinya kita adakan kirab di sini, dan melibatkan semua pihak terkait," ujarnya dalam sambutan.

Fadli menekankan, kekuatan Borobudur tak cuma pada arsitekturnya yang memukau. "Tapi juga pada pusaka tradisi, nilai luhur, ritual, seni, adat istiadat, dan ingatan kolektif yang masih dijaga oleh masyarakat," lanjutnya.

Ia berharap kegiatan serupa bisa lebih sering digelar. Sebab, aktivitas keagamaan dan budaya adalah napas masyarakat Indonesia.

"Kita berharap dengan hadirnya Candi Borobudur yang semakin baik pelayanannya, semakin dikenal, ramah terhadap disabilitas, ramah terhadap para senior, dan tentu saja untuk berbagai latar belakang," sambung Fadli.

Semangat gotong royong dari perwakilan 20 desa penyangga inilah, katanya, yang menjadi kunci. "Keberadaan Candi Borobudur harus kita rasakan bersama, termasuk manfaatnya bagi masyarakat sekitar dan seluruh Indonesia," tegasnya.

Kirab itu sendiri berlangsung meriah. Sekitar seribu peserta dari berbagai desa dan komunitas budaya berprosesi dari Gerbang Beringin menuju Pelataran Kenari. Mereka membawa berbagai pusaka dengan khidmat. Suasana hening sejenak saat doa lintas agama dan ritual budaya digelar. Lalu, ada penyerahan bibit konservasi sebagai simbol komitmen menjaga kelestarian. Acara pun ditutup dengan kenduri atau 'umbul bojono', makan bersama yang mencerminkan harmoni.

Di sisi lain, kegiatan ini jelas punya tujuan strategis. Selain memperkuat sinergi antara pemerintah dan komunitas, Kemenbud ingin meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian. Partisipasi aktif warga desa penyangga diharapkan jadi pondasi utama. Dengan begitu, Borobudur tak hanya jadi destinasi wisata global, tetapi juga pusat budaya yang otentik dan inklusif.

Hadir dalam acara tersebut sejumlah pejabat, seperti Bupati Magelang Grengseng Pamudji, Wakil Bupati Sahid, serta sejumlah direktur jenderal dan direktur di lingkungan Kemenbud. Tokoh dari Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia juga turut menyaksikan. Mereka semua menyatu dalam satu tujuan: merawat warisan nenek moyang agar tak sekadar jadi kenangan, tapi terus hidup di tengah denyut nadi zaman.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar