Dunia nyaris meledak. Di tengah dinginnya Perang Dingin, ketegangan antara dua adidaya begitu mencekam. Tapi, siapa sangka, seorang pria di ruang kendali Uni Soviet-lah yang mencegah segalanya berubah menjadi Perang Dunia Ketiga.
Namanya Stanislav Petrov. Tahun 1983, dia hanyalah seorang perwira yang bertugas jaga malam. Tugasnya sederhana sekaligus mengerikan: memantau sistem peringatan dini dan melaporkan serangan rudal musuh. Jika laporan itu masuk, serangan balasan hampir pasti akan diluncurkan. Situasi politik saat itu memang sedang di ujung tanduk.
Menurut sejumlah saksi dan wawancaranya sendiri, malam itu semua berubah. Sirene tiba-tiba meraung memecah kesunyian. Di layar besar berwarna merah, kata "LUNCURKAN" menyala terang.
"Sirene meraung, tetapi saya hanya duduk di sana selama beberapa detik, menatap layar merah besar yang menyala dengan tulisan 'luncurkan' di atasnya," kenang Petrov pada BBC tahun 2013.
Sistem menyatakan tingkat keandalan peringatan itu adalah yang tertinggi. Semua indikasi mengatakan Amerika sudah menembakkan rudal nuklir. Namun begitu, Petrov membeku. Instingnya berkata lain.
Lalu, sirene berbunyi lagi. Rudal kedua. Ketiga. Keempat. Dan kelima. Komputer bahkan mengubah statusnya dari "luncurkan" menjadi "serangan rudal". Situasinya semakin kacau.
"Tidak ada aturan tentang berapa lama kami diizinkan untuk berpikir sebelum melaporkan serangan. Tetapi kami tahu bahwa setiap detik penundaan akan membuang waktu yang berharga," ujarnya.
Dia punya otoritas untuk segera mengangkat telepon dan memberi tahu atasan. Itu prosedurnya. Tapi Petrov ragu. Ada yang tidak beres. Menurutnya, serangan pertama AS seharusnya tidak hanya meluncurkan lima rudal, tapi lebih banyak, dalam satu serangan besar-besaran. Logika militer sederhana itu yang menahannya.
"Yang harus saya lakukan hanyalah meraih telepon," lanjutnya.
Tapi dia tidak melakukannya. Dia memutuskan itu adalah kesalahan sistem. Dan ternyata, dia benar. Itu adalah alarm palsu yang disebabkan oleh pantulan sinar matahari di awan. Keputusannya yang hanya berdasar pada naluri dan kecurigaan itu, tanpa disadari, menyelamatkan dunia dari malapetaka.
Artikel Terkait
Korlantas Polri Gunakan Drone ETLE untuk Awasi Lalu Lintas Kemala Run 2026 di Gianyar
Getaran Misterius Guncang Tiga Blok di Desa Cipanas Cirebon, Warga Panik
NEXT Indonesia Center: Ekonomi 2026 Masih Berpeluang Tumbuh di Atas 5 Persen
Ledakan Populasi Ikan Sapu-sapu Ancam Ekosistem Perairan Indonesia