JAKARTA – Menjadi sosok kritis di era Orde Baru bukanlah perkara mudah. Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, merasakan betul tekanan itu. Sebagai Ketua Umum PBNU, gerak-geriknya kerap diawasi ketat oleh intel pemerintah. Ia tak pernah benar-benar sendirian.
Suasana pengawasan yang mencekam itu terasa sangat kental saat Muktamar NU digelar di Situbondo. Di muktamar bersejarah yang memutuskan NU kembali ke khittah ini, para intel berkeliaran di mana-mana. Mereka bahkan menyusup masuk ke dalam ruang sidang, mencoba menyadap setiap diskusi dan pembicaraan para kiai.
Nah, dalam sebuah rapat penting yang membahas Pancasila, Gus Dur tiba-tiba mengambil langkah tak terduga. Ia meminta dua kiai senior, Kiai Tolchah Mansoer dan Kiai Achmad Siddiq, untuk memimpin sidang. Bukan cuma memimpin, tapi juga berpidato menggunakan bahasa Arab.
Kedua kiai itu tentu saja bingung. Maksud Gus Dur apa? Tapi mereka pun mengiyakan. Rapat pun berjalan lancar. Semua peserta yang notabene para kiai paham betul dengan bahasa yang digunakan. Diskusi mengalir tanpa hambatan.
Usai acara, Kiai Tolchah penasaran. Ia pun mendekati Gus Dur dan bertanya tentang instruksi aneh tadi.
Gus Dur hanya tersenyum lebar sebelum menjawab. "Mas, rapat kita tadi diawasi intel pemerintah. Makanya sampeyan saya suruh pakai bahasa Arab," ujarnya.
Lalu ia tertawa kecil. "Mengapa? Karena intel pemerintah itu intel kepet, Mas. Abangan yang nggak bisa bahasa Arab... hehehe."
Cerita tentang kecerdikan menghadapi mata-mata pemerintah ini bukan cuma milik Gus Dur. Ada juga kisah serupa dari Kiai Sahal Mahfudh, yang tertuang dalam buku "Belajar dari Kiai Sahal".
Menurut catatan dalam buku itu, Kiai Sahal punya cara unik sendiri. Dalam suatu acara besar yang berlangsung beberapa hari, ia selalu diantar-jemput oleh seorang lelaki bertubuh tegap mengendarai motor.
Rutinitas itu berlangsung terus. Si pengendara motor itu setia mengawal. Hingga suatu saat, terungkaplah identitas sebenarnya. Lelaki tegap itu ternyata adalah telik sandi pemerintah yang ditugaskan khusus untuk memantau sang kiai.
Artikel Terkait
BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi hingga 2,5 Meter di Perairan Sumut, Nelayan Diminta Waspada
Iran Tutup Kembali Selat Hormuz, Kapal Tanker Pertamina Masih Tertahan
Mendikti: Penyelesaian Kasus Pelecehan Seksual di Kampus Tak Boleh Hanya Mediasi
Lima Anggota Keluarga Tewas Terjebak dalam Kebakaran di Grogol Petamburan