Pemprov DKI Angkat 7 Ton Ikan Sapu-Sapu untuk Jaga Ekosistem Sungai

- Sabtu, 18 April 2026 | 22:15 WIB
Pemprov DKI Angkat 7 Ton Ikan Sapu-Sapu untuk Jaga Ekosistem Sungai

Oleh: Ridho Dwi Putranto


Jakarta punya cara tersendiri untuk mengatasi masalah di sungainya. Kali ini, targetnya adalah ikan sapu-sapu. Ribuan ekor berhasil diangkat dari perairan ibukota dalam sebuah operasi besar-besaran yang digelar akhir pekan lalu.

Operasi itu sendiri melibatkan ratusan petugas gabungan dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) DKI bersama lima wilayah kota. Mereka bergerak cepat, menjaring puluhan ribu ikan yang dianggap sebagai ancaman bagi ekosistem. Tak tanggung-tanggung, hasilnya mencapai hampir 7 ton.

Semua ini, kata pihak berwenang, merupakan tindak lanjut langsung dari instruksi Gubernur DKI, Pramono Anung. Tujuannya jelas: menjaga keseimbangan alam perairan Jakarta yang sudah rentan.

Kepala Dinas KPKP, Hasudungan Sidabalok, menjelaskan alasan mendesak di balik aksi tersebut.

"Ikan sapu-sapu ini spesies invasif. Mereka merusak habitat asli dengan kebiasaan menggali dasar dan tepian sungai," ujarnya di Jakarta, Sabtu (18/4/2026).

Menurut Hasudungan, populasi mereka harus ditekan. Dan operasi massal seperti ini adalah strategi jangka pendek yang paling efektif untuk saat ini. Ke depan, rencananya akan ada koordinasi lebih intens dengan Dinas Lingkungan Hidup dan wilayah lain agar aksi serupa bisa dilakukan lebih masif dan rutin.

Lalu, bagaimana nasib puluhan ribu ikan hasil tangkapan itu?

Pemprov DKI memastikan penanganannya dilakukan secara higienis. Ikan-ikan tersebut dimatikan lalu dikubur di lokasi tertentu. Ini untuk mencegah mereka kembali ke sungai atau malah berakhir di pasar. Namun, tidak semuanya berakhir di kuburan.

"Sebagian besar dikubur untuk jadi kompos alami. Tapi khusus yang dari Setu Babakan, sekitar 1.000 kg, kita bawa ke Balai Riset Budidaya Ikan Hias KKP," jelas Hasudungan.

Di sana, ikan sapu-sapu itu akan diteliti lebih lanjut. Salah satu potensi pemanfaatannya adalah sebagai media kultur untuk budidaya maggot.

Dari data yang ada, Jakarta Selatan menjadi penyumbang tangkapan terbesar. Tepatnya di kawasan Setu Babakan, Jagakarsa, dengan 63.600 ekor atau setara 5,3 ton. Sementara wilayah lain seperti Jakarta Timur mencatat 4.128 ekor, Jakarta Pusat 536 ekor, Jakarta Utara 545 ekor, dan Jakarta Barat 71 ekor.

Di sisi lain, ada pesan penting yang ingin disampaikan kepada publik. Hasudungan memberikan peringatan keras: jangan sekali-kali mengonsumsi ikan sapu-sapu yang berasal dari sungai Jakarta.

"Risikonya besar untuk kesehatan. Hasil uji lab menunjukkan kandungan logam berat, terutama timbal, sangat tinggi. Jauh melebihi ambang batas aman yang hanya 0,3 mg/kg," pungkasnya.

Jadi, operasi ini bukan sekadar soal jumlah tangkapan. Lebih dari itu, ini adalah upaya membersihkan sungai dari spesies pengganggu sekaligus melindungi warga dari bahaya konsumsi ikan yang tercemar.


Editor: Redaksi

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar