Laut Arab kembali memanas. Komando Pusat Militer AS, atau CENTCOM, baru-baru ini mengungkapkan bahwa mereka telah memaksa 21 kapal untuk berbalik haluan. Aksi ini merupakan bagian dari blokade laut yang diterapkan Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Lewat sebuah postingan di platform X pada Jumat, CENTCOM menjelaskan situasinya. Kapal perang AS, USS Michael Murphy, saat ini sedang berpatroli di kawasan itu. Tugasnya jelas: menegakkan kebijakan blokade yang digaungkan Presiden Donald Trump.
Menariknya, CENTCOM menyebut semua kapal yang diperintah untuk berbalik itu akhirnya mematuhi. Tidak ada perlawanan.
Kegaduhan di Jalur Minyak Global
Di sisi lain, kebijakan yang diumumkan sejak pertengahan April ini jelas memperkeruh keadaan. Gangguan pelayaran di Selat Hormuz kian menjadi-jadi. Padahal, selat sempit itu adalah urat nadi energi dunia, dilalui oleh seperlima pasokan minyak global.
Semua ini berawal dari ketegangan yang meledak akhir Februari lalu, konflik antara AS dan Israel melawan Iran. Imbasnya langsung terasa: harga minyak melonjak, begitu pula biaya pengiriman dan asuransi kapal-kapal di sana. Dunia bisnis tentu saja waswas.
Namun begitu, ada sedikit angin segar dari pihak Iran. Mereka mengklaim telah membuka kembali Selat Hormuz untuk kapal komersial, tentu saja melalui rute-rute tertentu yang mereka tentukan. Menurut Tehran, langkah ini selaras dengan gencatan senjata di Lebanon yang baru saja berlaku, Kamis malam lalu.
Presiden Trump sendiri mengakui bahwa Iran memang telah membuka selat itu.
Tapi pesannya keras dan jelas: blokade laut Amerika tidak akan dicabut. Tidak sampai ada kesepakatan yang benar-benar final dengan Iran.
(Kelvin Yurcel)
Artikel Terkait
Ibu Haru Bersyukur di Depan Prabowo, Putrinya Kini Bisa Sekolah Lagi Berkat Program Sekolah Rakyat
Pangeran Purbaya Dituding Jadi Dalang Perlawanan terhadap VOC hingga Dibuang ke Sri Lanka
Gempa Magnitudo 4,2 Guncang Bener Meriah, Getaran Terasa Hingga Takengon
Jakarta Miliki 3.500 Bioskop, Wagub Rano Karno Sebut Indonesia Jadi Anomali di Tengah Tren Penurunan Global