Suasana malam yang lengang di Tanjung Duren Utara tiba-tiba berubah jadi mencekam. Dari sebuah rumah di Jalan Rambutan Timur, kobaran api tiba-tiba menyembur, menewaskan satu keluarga. Detik-detik mengerikan itu masih membekas di ingatan para tetangga.
Delsi (45) masih jelas mengingatnya. Istrinya terbangun sekitar pukul setengah dua dini hari, diganggu suara aneh. “Isteri saya dengar suara seperti aliran air yang menyala, datangnya dari arah rumah mereka,” katanya. Penasaran, istrinya pun mengintip lewat jendela. Hasilnya? “Pas ngintip, ternyata api sudah besar di bawah,” ujar Delsi, menirukan kata sang istri.
Melihat si jago merah sudah berkobar, Delsi dan keluarganya langsung berteriak histeris. Teriakan “kebakaran!” itu memecah keheningan, membangunkan warga lain. Beberapa orang buru-buru menelepon pemadam. Tapi, butuh waktu. Petugas baru tiba sekitar pukul dua pagi.
Menurut Septio (21), warga lain, awal mula bencana diawali suara yang lebih keras. “Awalnya dengar suara letupan,” ujarnya. Ia menduga sumbernya dari kabel listrik di tiang luar rumah. Percikan api dari sana diduga merambat lewat kabel yang masuk ke dalam rumah, lalu menyulut segalanya.
Api melahap dengan cepat. Situasi jadi makin runyam karena di teras rumah ada beberapa kendaraan. Ada sepeda motor, dan yang diduga kuat, ada juga sepeda listrik. “Di dalam ada motor, mungkin bensinnya kena api jadi meledak. Sepeda listrik juga kemungkinan ikut meledak, itu yang bikin api makin parah,” tambah Septio. Ledakan bertambah keras, menjadikan kobaran api semakin ganas dan sulit dikendalikan.
Yang menyayat hati, seluruh penghuni rumah saat itu sedang terlelap. Warga sempat mencoba menghubungi mereka lewat telepon. Tapi tidak ada jawaban. “Posisinya lagi tidur semua. Sempat diteleponin juga nggak ada yang angkat, mungkin baru sadar pas api sudah besar,” ucap Septio dengan nada sedih.
Padahal, menurutnya, sebenarnya masih ada jalan keluar. Akses ke lantai atas atau atap rumah mungkin bisa jadi jalur penyelamatan. Namun begitu, kepanikan di tengah situasi kacau-balau itu diduga membuat mereka tak sempat berpikir jernih.
Warga sekitar mengenal keluarga itu sebagai orang-orang baik. “Orangnya baik, ramah, nggak milih-milih. Kehilangan banget,” kenang Septio. Kepergian mereka meninggalkan duka yang dalam bagi seluruh lingkungan.
Dugaan sementara, penyebabnya adalah korsleting listrik. Tapi ada juga kecurigaan lain: bisa jadi api berasal dari sepeda listrik yang sedang dicas, sebelum akhirnya merembet ke mana-mana. Peristiwa memilukan ini terjadi pada Jumat (17/4) dini hari, tepatnya sekitar pukul 02.18 WIB.
Achmad Saiful Kahfi, Kasiops Sudin Gulkarmat Jakbar, membenarkan musibah tersebut. “Objek kebakaran rumah tinggal. Korban jiwa 5 orang,” jelasnya. Untuk mengatasi kobaran api, petugas mengerahkan 8 unit mobil damkar dan 40 personel. Saat menyisir puing-puing rumah yang hangus, merekalah yang menemukan para korban.
Artikel Terkait
Polisi Gerebek Lagi Lokasi Pengoplosan LPG di Cileungsi
PDRB Jatim Tembus Rp3.403 Triliun, Kontribusi ke Nasional Capai 14,4%
Gus Ipul: Program Sekolah Rakyat Tunjukkan Hasil, Siswa Lebih Percaya Diri dan Berkarakter
Prodia Resmikan Klinik Stem Cell Pertama, Fokus pada Pengobatan Ortopedi