JAKARTA Lumbung Coin Eco-resort, salah satu perusahaan properti di Jawa Timur, kini mengarahkan pandangannya pada segmen hunian komunal. Mereka berencana mengembangkan kawasan rumah kos atau yang biasa disebut rukos dengan sebuah konsep yang terasa cukup segar.
Rosantika, Direktur Utama perusahaan itu, menjelaskan idenya. Ia menyebut konsep ini sebagai living dan learning. Intinya, mereka ingin menciptakan sebuah ekosistem yang menyatukan tempat tinggal komunal dengan pusat pelatihan berbasis industri. Fokusnya? Bidang digital.
"Konsepnya pengembangan kawasan rumah kos atau rukos yang memadukan konsep hunian atau living dengan pembelajaran atau learning bagi penghuninya," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (17/4/2026).
Untuk mewujudkannya, Lumbung Coin telah menjalin kerja sama dengan Indonesia Construction Architecture Network (ICAN). Kolaborasi ini bertujuan menggabungkan hunian dengan fasilitas belajar bagi para penghuni. Nantinya, akan dibangun program bootcamp untuk mencetak talenta digital yang diharapkan bisa bersaing, baik di dalam negeri maupun secara global.
Menurut sejumlah pihak, ide semacam ini memang punya nilai lebih. Chairman ICAN, Dian Putra, menilai keberadaan fasilitas pelatihan di dalam lingkungan hunian bisa memberikan nilai tambah yang signifikan, bukan cuma untuk mahasiswa, tapi juga masyarakat umum. Selain sekadar tempat tinggal, penghuni akan mendapat akses untuk mengasah keterampilan dan bahkan mengembangkan ide bisnis.
"Konsep ini tidak hanya mendukung kegiatan akademik, tetapi juga mendorong lahirnya peluang usaha baru," tegas Dian.
Dari sisi fisik, kawasan ini rencananya akan terdiri dari 67 unit rumah. Setiap unitnya memiliki 12 kamar. Namun, yang menarik justru fasilitas penunjangnya. Mereka menyiapkan area kerja bersama atau co-working space, amfiteater, area olahraga, dan tentu saja ruang terbuka hijau. Semua itu dirancang untuk mendukung aktivitas dan interaksi penghuni.
Di sisi lain, aspek ramah lingkungan juga tak dilupakan. Mereka berencana menyediakan kendaraan internal berbasis energi bersih dan membatasi masuknya kendaraan berbahan bakar fosil ke dalam kawasan. Jadi, nuansa hijau dan berkelanjutan benar-benar diusung.
Sementara untuk program pelatihannya, Farid Subkhan selaku Chairman VOCASIA memberikan penjelasan. Ia menyatakan bahwa pelatihan yang disiapkan akan berfokus pada praktik langsung. Tujuannya jelas: agar peserta bisa memahami proses bisnis digital secara aplikatif, bukan cuma teori.
"Pendekatannya tidak hanya teori, tetapi juga praktik bisnis agar peserta memiliki pengalaman langsung," kata Farid.
Materi yang akan diberikan cukup beragam, mencakup strategi pemasaran, pengelolaan keuangan, analisis pasar, sampai optimalisasi platform digital. Programnya sendiri dirancang fleksibel, dengan durasi mulai dari satu minggu hingga enam bulan, menyesuaikan kebutuhan peserta.
Farid menambahkan, pengembangan keterampilan digital seperti ini dinilai krusial. Terutama untuk membuka peluang kerja baru di tengah membanjirnya jumlah lulusan perguruan tinggi setiap tahunnya. Dengan dukungan pelatihan yang relevan, harapannya peserta bisa membangun usaha mandiri atau setidaknya berkontribusi lebih besar dalam ekosistem ekonomi digital yang terus berkembang pesat ini.
Artikel Terkait
Menteri Fadli Zon Tegaskan Chattra Borobudur Terbuat dari Perunggu, Bukan Batu
Komisi I DPR Desak Pemerintah Hati-hati Soal Ancaman Blokir Wikipedia
Iran Ancam Tutup Kembali Selat Hormuz Menyusul Blokade AS
Harga Emas Antam Naik Signifikan, 1 Gram Tembus Rp2,8 Juta