Remaja Ngawi Paparkan Riset, Temukan Penyebab Rendahnya Konsumsi Tablet Tambah Darah

- Jumat, 17 April 2026 | 12:45 WIB
Remaja Ngawi Paparkan Riset, Temukan Penyebab Rendahnya Konsumsi Tablet Tambah Darah

Rabu siang itu, 15 April 2026, suasana di salah satu kantor kecamatan di Ngawi, Jawa Timur, tampak berbeda. Belasan remaja, wajah-wajah mereka masih belia, berkumpul dengan serius. Mereka adalah Duta Generasi Berencana yang mewakili 26 desa, bagian dari program percepatan penurunan stunting yang disebut PASTI. Hari itu, mereka punya misi: memaparkan hasil riset mereka sendiri.

Risetnya sendiri melibatkan 15 remaja sepuluh perempuan dan lima laki-laki. Metodenya kualitatif, gali-menggali untuk menemukan akar masalah sekaligus potensi di desa mereka terkait stunting. Hasilnya? Mereka sajikan dengan cukup berani di depan para pemangku kebijakan setempat: Camat, Kepala Desa, dan perwakilan Puskesmas.

Dengan lugas, temuan demi temuan disampaikan. Salah satu yang menonjol: rendahnya konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) di kalangan remaja putri. Ternyata, alasannya sederhana tapi kerap diabaikan: soal rasa dan baunya yang tidak enak. Banyak yang mengeluh mual setelah meminumnya.

Namun begitu, peran mereka tak berhenti di penelitian. Para duta muda ini juga aktif mengedukasi teman sebayanya, khususnya para remaja putri.

“Saya biasa menyarankan teman-teman untuk minum TTD bareng buah yang mengandung vitamin C,” ujar Milla, salah satu Duta Genre.

Menurutnya, trik kecil itu bisa mengatasi trauma rasa dan bau. Bahkan, vitamin C justru membantu penyerapan zat besi. “Tapi jangan diminum sama teh atau kopi,” tambahnya kepada Metrotvnews.com, Rabu (17/4/2026). “Itu malah menghambat penyerapan.”

Sholaqal, Ketua Genre Kabupaten Ngawi, mengakui masih banyak remaja putri yang belum paham betapa pentingnya TTD. Padahal, dampaknya bisa panjang. “Ke depan, harapannya nggak cuma bagi-bagi tablet,” terangnya. “Tapi juga ada pengawasan langsung, biar benar-benar diminum.”

Pemaparan hasil riset penanganan stunting bagi remaja di Kabupaten Ngawi. Foto Metrotvnews.com/Marup

Temuan para remaja ini rupanya dapat konfirmasi dari pihak kesehatan. Supriyono, perwakilan sebuah Puskesmas di Ngawi, menyebut riset internal mereka menunjukkan hal serupa: dalam satu kelas, sekitar 30% remaja putri tidak rutin minum TTD.

“Padahal sudah kami kampanyekan, tablet ini bisa bikin perempuan lebih sehat, bahkan terlihat lebih segar,” ucap Supriyono.

Upaya sudah dilakukan. Selain kampanye, ada juga Gerakan Minum TTD Bersama yang digelar rutin tiap Sabtu. Tapi tantangannya nyata. Banyak remaja merasa dirinya sehat-sehat saja, jadi enggan minum. “Anemia ringan sering tanpa keluhan,” tuturnya. “Tapi dampak jangka panjangnya bisa serius.”

Ia menekankan, pencegahan anemia pada remaja putri adalah investasi besar. Ini untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat kelak. Jika sang ibu tidak anemia, risiko anak mengalami stunting pun bisa ditekan.

Di sisi lain, program PASTI sendiri yang menjadi wadah riset ini dijelaskan oleh Hotmianida Panjaitan, Program Manager-nya. Mereka memberikan pelatihan, mulai dari koordinasi awal hingga pendampingan teknis. “Remaja punya peran krusial dalam penanganan stunting,” katanya.

Program ini sendiri merupakan kolaborasi antara BKKBN, Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara, dan PT Bank Central Asia Tbk, dengan implementasi oleh Wahana Visi Indonesia. Targetnya jelas: percepatan pencegahan stunting di Indonesia hingga awal 2027.

Siang itu di aula kecamatan, lembaran kertas berisi data berganti tangan. Dari remaja ke pejabat. Sebuah dialog yang mungkin kecil, tapi langkahnya terasa konkret. Mereka tidak sekadar menerima informasi, tapi aktif mencari solusi untuk masa depan daerah mereka sendiri.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar