Di Hotel Sofyan, Kamis lalu, suasana forum halal terasa cukup hangat. Sekretaris Utama BPJPH, Muhammad Aqil Irham, mengambil podium. Dalam acara Halal Brand Forum 2026 itu, ia menyampaikan sebuah pesan penting: industri besar punya peran krusial untuk membina UMKM. Tujuannya jelas, memperkuat ekosistem halal nasional dan membuka akses pasar yang lebih lebar.
“Sertifikasi halal sudah menjadi baseline kepercayaan pasar,” ujar Aqil, mengawali paparannya yang bertajuk Halal sebagai Fondasi Gaya Hidup Generasi Muslim.
Namun begitu, menurutnya, memiliki sertifikat saja tak cukup. Tantangan sesungguhnya justru ada di tahap selanjutnya. “Tantangannya sekarang adalah bagaimana pelaku usaha membuktikan dan memaksimalkan nilai tambahnya terhadap pertumbuhan bisnis,” tegasnya dalam keterangan tertulis di hari berikutnya, Jumat (17/4/2026).
Dia melihat, aspek kehalalan kini benar-benar mempengaruhi pilihan konsumen. Khususnya untuk makanan dan minuman, label halal sering jadi pertimbangan pertama. Kalau tidak ada, banyak yang langsung mengurungkan niat beli.
“Sanksi terbesar bagi pelaku usaha bukan semata dari regulasi, tetapi dari pasar,” ungkap Aqil.
“Kepercayaan konsumen bisa hilang ketika komitmen terhadap halal tidak dijaga.”
Nah, di sinilah kolaborasi masuk. Aqil menyoroti bahwa UMKM sulit berkembang sendirian. Mereka perlu diintegrasikan ke dalam rantai pasok yang lebih besar. Peran industri besar sebagai pembina dan penghubung, dari proses produksi hingga pemasaran, dinilai krusial. Tanpa itu, usaha kecil mungkin hanya bertahan, tapi tidak benar-benar tumbuh.
Dorongan untuk bermitra ini bukan cuma soal sertifikasi. Lebih dari itu, untuk membangun daya saing dan keberlanjutan. Agar produk halal lokal tak hanya memenuhi syarat, tapi juga punya nilai jual tinggi dan bisa menjangkau pasar global.
“UMKM harus didorong masuk ke dalam rantai pasok agar produknya berkelanjutan dan memiliki nilai tambah, bahkan mampu menembus pasar yang lebih luas,” tuturnya menekankan.
Forum yang diselenggarakan IHATEC Marketing Research itu sendiri juga menghadirkan sejumlah pembicara lain, seperti Afdhal Aliasar dan Binsar Agung Hartanto Sitompul. Pesertanya beragam, mulai dari eksekutif puncak hingga brand manager perusahaan-perusahaan pemenang Top Halal Award. Mereka semua berkumpul, membicarakan masa depan merek halal untuk generasi muslim yang semakin kritis.
Artikel Terkait
Metode Kakeibo: Teknik Pencatatan Manual dari Jepang untuk Disiplin Menabung dan Mengurangi Belanja Impulsif
Sekretaris Kabinet Bantah Kunjungan Luar Negeri Prabowo Sekadar Seremonial, Sebut Ada Capaian Konkret
Lima Jenazah Satu Keluarga Korban Ledakan Bom Perang Dunia II di Biak Dimakamkan
Kapolda Riau Ajak Masyarakat Jadikan Hari Lahir Pancasila Kompas Moral Jaga Persatuan Bangsa