Jakarta - Isu rendahnya minat baca di Indonesia seringkali disederhanakan. Big Bad Wolf (BBW) punya pandangan berbeda. Menurut mereka, akar masalahnya bukan cuma soal kemalasan, tapi lebih pada akses yang terbatas. Khususnya di daerah-daerah pelosok, mendapatkan buku berkualitas itu susah.
Marthius Wandi Budianto, Direktur BBW Indonesia, menjelaskan hal ini dalam acara Gathering & Book Preview BBW Jakarta 2026, Kamis lalu.
"Jangan langsung bilang orang malas baca. Faktanya, bukunya saja sulit didapat," ujarnya. "Coba lihat kota-kota di luar Jawa. Seringkali, satu kota cuma punya satu toko buku, itupun biasanya di dalam mal."
Angkanya memang memprihatinkan. Tingkat literasi nasional disebut baru nyampe 0,001 persen. Artinya, cuma satu dari setiap 100.000 orang yang benar-benar punya kegemaran membaca.
Nah, sebagai salah satu jawabannya, BBW menghadirkan bazar buku internasional dengan harga yang bisa dibilang terjangkau. Pilihannya beragam, dan mereka memberi perhatian khusus pada buku anak-anak. Ini strategis.
"Kami ingin anak-anak merasakan pengalaman membaca yang beda, yang bisa mengurangi ketergantungan mereka pada gawai," kata Wandi.
Menurutnya, pengalaman membuka buku fisik itu sensasinya lain. Lebih menyenangkan ketimbang menatap layar.
Persoalannya, kelangkaan buku anak berkualitas ini nyata. Bahkan di sekolah-sekolah favorit sekalipun koleksinya terbatas. Banyak orang tua yang bingung mencari buku berbahasa Inggris yang bagus untuk buah hati mereka di toko buku biasa.
Untuk itu, BBW Jakarta 2026 bakal digelar mulai 29 April hingga 3 Mei mendatang. Tempatnya di ICE BSD City. Yang menarik, acara ini bakal buka 24 jam nonstop selama lima hari penuh. Jutaan buku ditawarkan, dengan harga mulai Rp49.000 saja.
Mereka juga sudah siapkan logistik. Lion Parcel jadi mitra resmi yang siap kerja 24 jam selama acara. Jadi, pengunjung dari luar kota bisa beli buku sebanyak-banyaknya tanpa perlu repot membawa pulang sendiri. Barangnya dikirim.
Antusiasmenya ternyata melintas batas. Pada gelaran di Surabaya sebelumnya, ada saja pembeli dari Malaysia yang menitip beli lewat saudara di Indonesia. Buku-buku itu lalu dikirim ke negeri jiran.
"Harapan kami sederhana. Dengan kehadiran kami di lebih banyak kota, tingkat literasi nasional perlahan bisa terdongkrak," tutur Wandi.
Di usia ke-10 tahun di Indonesia, BBW menegaskan komitmennya. Mereka ingin terus memperbaiki pengalaman pengunjung dan, yang paling utama, memperluas akses masyarakat terhadap buku berkualitas. Harganya pun harus tetap bersahabat.
Artikel Terkait
Polisi Selidiki Penemuan Jasad Perempuan di Rumahnya Sendiri di Serpong
Polisi Bongkar Kasus Penyelundupan Sepatu Adidas dari Pabrik Ekspor, Satu Otak Masih Buron
Jubir KPK Dilaporkan ke Polda Metro Terkait Dugaan Pencemaran Nama Baik
Menteri Fadli Zon Dorong Klenteng Tertua di Padang Jadi Cagar Budaya Nasional