Acara silaturahmi nasional dan halal bi halal yang digelar Majelis Ulama Indonesia di Hotel Sultan, Rabu lalu, dihadiri oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar. Dalam sambutannya, Menag menyoroti bahwa tradisi ini sebenarnya punya makna yang jauh lebih dalam ketimbang sekadar seremoni usai Lebaran.
Menurutnya, momen ini adalah ruang untuk memperkuat ukhuwah.
"Dalam tradisi kita, halalbihalal tentu bukan sekadar kebiasaan setelah Idul Fitri," ujar Nasaruddin.
Dia melanjutkan, "Ia juga adalah ruang untuk meluruskan kembali hubungan, menghalalkan kembali yang sempat tersimpan di hati."
Intinya, ini saatnya membenahi relasi yang mungkin sempat renggang. Di sisi lain, Nasaruddin melihat halalbihalal sebagai cara merawat hubungan dengan ikhlas. Dari situlah, katanya, persaudaraan bisa benar-benar tumbuh. Bukan cuma persaudaraan sesama muslim, tapi juga dalam konteks kebangsaan dan bahkan sebagai sesama makhluk.
"Bukan hanya ukhuah islamiyah, tapi juga ukhuah wataniyah, bahkan juga ukhuwah makhluqiyah," sambungnya.
Dia menjelaskan lebih lanjut, konsep sebagai sesama makhluk ini mencakup harmoni dengan alam semesta, tumbuhan, hewan, dan lingkungan sekitar. Di sinilah dia menyinggung soal ekoteologi gagasan bahwa kesalehan seseorang juga diukur dari bagaimana dia memperlakukan alam.
"Tidak ada khalifah yang sukses, tidak mungkin kita bisa menjadi abid yang hebat tanpa dukungan alam semesta yang kondusif," jelas Nasaruddin.
Pembicaraan kemudian bergeser ke peran ormas Islam. Nasaruddin secara khusus mengapresiasi MUI dan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam lainnya. Dia menilai mereka konsisten jadi penjaga stabilitas dan pemberi arah bagi masyarakat, peran yang sudah berjalan sejak zaman perjuangan kemerdekaan.
"Mereka selalu hadir. Hadir untuk menenangkan masyarakat, dan hadir juga untuk memberikan arah," ungkapnya.
Apalagi di kondisi sekarang. Dinamika global berubah cepat, informasi serba disruptif, ditambah tantangan geopolitik yang kompleks. Dalam situasi seperti ini, peran MUI dan ormas Islam dinilai semakin krusial.
"Majelis Ulama hadir sebagai penuntun arah, sebagai penjaga keseimbangan, dan sebagai rujukan yang meneduhkan di tengah berbagai perbedaan," tutur Menag.
Pemerintah, lanjutnya, memandang mereka sebagai mitra strategis yang tak tergantikan. Harapannya ke depan sederhana tapi mendasar: agar ormas-ormas ini tetap menjadi perekat umat, penyejuk di kala ada perbedaan, dan tentu saja, kekuatan moral bagi kehidupan berbangsa.
Artikel Terkait
2,15 Juta Peserta BPJS PBI yang Dinonaktifkan Telah Direaktivasi
Ketua MPR: Survei Kemenag Sebut Indonesia Salah Satu Negara Paling Rukun
Wamenristek: Indonesia Harus Fokus pada Spesialisasi AI untuk Kejar Ketertinggalan
5 Warga Sipil, Termasuk Balita, Tewas Tertembak dalam Insiden dengan OPM di Puncak