Di tengah upaya mediasi yang kian intens dari negara-negara kawasan, pemerintah Iran justru bersikukuh dengan tuntutannya. Mereka meminta kompensasi atas kerusakan masif yang diderita, seraya menyalahkan Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab. Menariknya, tuntutan ini juga dialamatkan kepada lima negara tetangga regional. Apa alasannya? Menurut utusan Iran di PBB, wilayah kelima negara itu disebut digunakan sebagai basis untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Fatemeh Mohajerani, seorang juru pemerintah, memberikan angka yang fantastis. Dalam wawancaranya dengan RIA Novosti, ia menyebut total kerugian Iran mencapai sekitar US$270 miliar. Angka itu, setara Rp4.617 triliun, mencakup dampak langsung dan tidak langsung sejak perang AS-Israel pecah pada akhir Februari lalu.
"Isu kompensasi ini sudah jadi pembahasan dalam perundingan di Pakistan pekan kemarin," tegas Mohajerani. "Dan pasti akan dibawa lagi ke meja negosiasi berikutnya."
Meski begitu, ia mengakui sebuah realitas pahit. Dalam kondisi fiskal yang serba terbatas, pemerintah sendiri tak punya kapasitas untuk memberi kompensasi kepada warganya yang terdampak. "Realitas ekonomi yang ada tidak memungkinkan," ujarnya.
Kerusakannya memang luar biasa luas. Infrastruktur strategis jadi sasaran empuk. Mulai dari fasilitas energi, pabrik petrokimia, industri baja dan aluminium, hingga instalasi militer. Belum lagi sektor sipil: jembatan, pelabuhan, rel kereta, sekolah, rumah sakit, dan tempat tinggal warga banyak yang hancur atau rusak berat. Proses pemulihannya diprediksi bakal makan waktu sangat lama.
Tak ketinggalan, sektor penerbangan sipil terpukul hebat. Maghsoud Asadi Samani dari Asosiasi Maskapai Iran mengungkap data yang suram. Enam puluh pesawat sipil tak lagi bisa terbang, dan sepertiganya hancur total. Dari sekitar 160 pesawat yang tersisa, sebagian besar sudah tua dan perawatannya terhambat sanksi AS. Mereka juga kehilangan momen pendapatan saat periode Nowruz. Kerugiannya? Lebih dari 300 triliun rial hanya dalam 40 hari.
Bandara-bandara besar pun tak luput. Bandara di Teheran, Tabriz, Urmia, dan Khorramabad mengalami kerusakan signifikan pada landasan pacu, menara kontrol, dan hanggar.
Di sisi lain, sebagai bagian dari mekanisme kompensasi, Iran menggulirkan gagasan yang cukup kontroversial. Mereka mengusulkan penerapan pajak bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global.
Namun begitu, sikap Teheran tetap keras. Meski blokade laut AS mencekik pelabuhan mereka dan kerusakan di mana-mana, otoritas menyatakan tak akan memberikan konsesi substansial. Isu program nuklir, misalnya, tetap jadi garis merah.
Pernyataan keras juga datang dari parlemen. Ebrahim Rezaei, juru bicara Komisi Keamanan Nasional, menolak mentah-mentah perpanjangan gencatan senjata dua pekan.
"Itu hanya akan memberi waktu bagi AS dan Israel untuk memperkuat diri mereka lagi," katanya kepada Al Jazeera. "Mereka harus mengakui hak-hak Iran, termasuk kendali kami atas Selat Hormuz. Kalau tidak, ya kembali berperang."
Komitmen militer Iran tampaknya tak goyah. Data SIPRI mencatat, belanja militer mereka di 2024 hampir mencapai US$8 miliar. Dan mereka berencana menaikkannya secara signifikan, meski sebenarnya tengah menghadapi tekanan fiskal kronis akibat salah kelola, korupsi, dan sanksi internasional yang bertahun-tahun.
Tekanan itu kian menjadi karena kebijakan dalam negeri yang kontroversial. Pemutusan akses internet hampir total selama tujuh pekan terhadap lebih dari 90 juta penduduk, misalnya, justru memperburuk keadaan. Gelombang pemutusan kerja dan matinya aktivitas ekonomi digital menambah panjang daftar masalah.
Pemerintah seolah lepas tangan. Mereka menyatakan tidak punya kendali langsung atas kebijakan pemadaman internet itu, dan mengalihkan tanggung jawabnya ke Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
Afshin Kolahi dari Kamar Dagang Iran mencoba menghitung kerugiannya. Menurutnya, pemadaman itu merugikan ekonomi hingga US$80 juta per hari.
"Bayangkan, kita seperti kehilangan empat jembatan strategis setiap harinya. Ditambah dua pembangkit listrik berkapasitas menengah," keluhnya. "Dan ini kita lakukan sendiri pada diri kita sendiri."
Artikel Terkait
Polisi Amankan 15 Pemuda dan Sita Celurit dalam Patroli Antitawuran di Jakarta Timur
Timnas FA7 Indonesia Tembus Semifinal Piala Dunia 2026, Tantangan Brasil Menanti
Karyawan Warung Sate di Setiabudi Curi Motor Rekan Kerja, Diduga Hasilnya untuk Beli Narkoba
Andoni Iraola Resmi Tinggalkan Bournemouth, Dikabarkan Jadi Pelatih Baru Liverpool