Kemendagri Dorong Tabalong Kembangkan Inovasi yang Lebih "Berisi"
Kabupaten Tabalong dapat dorongan khusus dari pusat. Bukan sekadar dorongan biasa, tapi ajakan untuk melakukan lompatan. Lompatan inovasi, tepatnya. Tujuannya jelas: meningkatkan daya saing daerah dan membuat pelayanan publik jauh lebih responsif terhadap kebutuhan warganya.
Arahan ini datang langsung dari Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri, Yusharto Huntoyungo. Ia menyampaikannya dalam acara Evaluasi dan Penguatan Inovasi Daerah di Tabalong, Kalimantan Selatan, Senin lalu.
Bagi Yusharto, inovasi daerah tak boleh lagi mengandalkan kreativitas dadakan atau sekadar ikut-ikutan tren. Ia menegaskan, setiap kebijakan harus lahir dari bukti dan riset yang kuat. Dengan kata lain, data adalah fondasi utamanya.
"Inovasi yang dibangun di atas data, riset, dan praktik baik akan lebih tepat sasaran, efektif, serta berkelanjutan. Pendekatan ini memastikan kebijakan telah melalui analisis empiris sehingga meminimalisir risiko kegagalan,"
Jadi, inovasi yang selama ini mungkin terkesan sporadis atau sekadar proyek administratif, diharapkan bisa berubah total. Menjadi sesuatu yang terintegrasi secara sistematis dalam setiap rencana pembangunan.
Namun begitu, punya data saja ternyata belum cukup. Kolaborasi adalah kunci lain yang tak kalah penting. Yusharto meminta Pemkab Tabalong untuk benar-benar melibatkan semua pihak dalam ekosistem pentahelix. Mulai dari kampus, pengusaha, komunitas, sampai media.
"Keterlibatan semua pihak sangat penting agar inovasi yang dihasilkan tidak hanya menjadi solusi teknis, tetapi juga memiliki dampak luas yang dirasakan langsung oleh masyarakat,"
Di sisi lain, Yusharto tak lupa memberikan apresiasi. Tabalong memang patut diacungi jempol karena konsisten mempertahankan gelar daerah terinovatif di tingkat nasional selama beberapa tahun berturut-turut. Prestasi yang tidak mudah.
Tapi, pujian itu sekaligus jadi pengingat. Jangan sampai prestasi membuat cepat berpuas diri. Fokus kedepan harus bergeser. Bukan lagi soal berapa banyak inovasi yang diluncurkan, melainkan seberapa dalam dampaknya menyentuh kehidupan masyarakat. Dukungan regulasi, seperti Perda inovasi, juga disebut perlu untuk memberi kepastian hukum.
Terakhir, Yusharto mengingatkan satu hal yang sering terlupa: evaluasi. Tanpa monitoring yang rutin dan ketat, sebuah inovasi bisa saja mandek di tengah jalan atau hilang begitu saja. Ia khawatir, tanpa fondasi data yang kuat dan evaluasi berkelanjutan, semua upaya yang sudah dilakukan bisa sia-sia.
Artikel Terkait
Timnas Indonesia Coret Eliano Reijnders dan Jordi Amat dari Skuad FIFA Matchday Juni 2026
BULOG Benahi Tata Kelola Pabrik Gula GMM demi Petani Tebu Blora
Metode Kakeibo: Teknik Pencatatan Manual dari Jepang untuk Disiplin Menabung dan Mengurangi Belanja Impulsif
Sekretaris Kabinet Bantah Kunjungan Luar Negeri Prabowo Sekadar Seremonial, Sebut Ada Capaian Konkret