Pemimpin Hizbullah Tolak Mentah-mentah Rencana Pertemuan Lebanon-Israel di AS
Dari Beirut, suara penolakan itu bergema keras. Hassan Naim Qassem, pemimpin Hizbullah, secara terang-terangan menentang rencana pertemuan diplomatik antara Lebanon dan Israel yang dijadwalkan di Amerika Serikat. Baginya, upaya diplomasi di tengah gempuran serangan mematikan Israel ke wilayah Lebanon adalah hal yang sia-sia belaka.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Senin lalu, Qassem mendesak pemerintahnya untuk mengambil sikap tegas. “Ini saatnya untuk sikap yang bersejarah dan heroik,” serunya, mendorong agar Beirut memboikot pertemuan yang sudah diatur itu.
Pertemuan yang rencananya digelar di Washington DC itu memang menuai kontroversi. Duta besar kedua negara untuk AS diharapkan duduk bersama, membuka jalan bagi negosiasi langsung. Tapi bagi Qassem, ini cuma taktik licin. Tujuannya jelas: melumpuhkan Hizbullah dan memaksa mereka meletakkan senjata.
Nada bicaranya keras, tanpa kompromi. “Kami tidak akan beristirahat, apalagi menyerah. Biarkan medan perang yang berbicara,” tegasnya.
Ketegangan sebenarnya sudah memuncak sejak awal Maret. Pemicunya adalah rentetan roket yang diluncurkan Hizbullah sebagai balasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akhir Februari lalu. Serangan itu mengubah segalanya.
Artikel Terkait
KRI Canopus-936 Tiba di Cape Town dalam Misi Diplomasi Maritim
Jaksa Agung: Kebakaran Gedung Lama Bawa Hikmah, Kejagung Kini Tak Lagi Kayak Kantor Kelurahan
Wakil Ketua MPR Apresiasi Kesepakatan Pasokan Migas Indonesia-Rusia
Tim Kemenkumham Selidiki Video Napi Korupsi Singgah ke Coffee Shop Usai Sidang