Pemimpin Hizbullah Tolak Mentah-mentah Rencana Pertemuan Lebanon-Israel di AS
Dari Beirut, suara penolakan itu bergema keras. Hassan Naim Qassem, pemimpin Hizbullah, secara terang-terangan menentang rencana pertemuan diplomatik antara Lebanon dan Israel yang dijadwalkan di Amerika Serikat. Baginya, upaya diplomasi di tengah gempuran serangan mematikan Israel ke wilayah Lebanon adalah hal yang sia-sia belaka.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Senin lalu, Qassem mendesak pemerintahnya untuk mengambil sikap tegas. “Ini saatnya untuk sikap yang bersejarah dan heroik,” serunya, mendorong agar Beirut memboikot pertemuan yang sudah diatur itu.
Pertemuan yang rencananya digelar di Washington DC itu memang menuai kontroversi. Duta besar kedua negara untuk AS diharapkan duduk bersama, membuka jalan bagi negosiasi langsung. Tapi bagi Qassem, ini cuma taktik licin. Tujuannya jelas: melumpuhkan Hizbullah dan memaksa mereka meletakkan senjata.
“Israel dengan gamblang menyatakan bahwa tujuan negosiasi ini adalah untuk melucuti senjata Hizbullah, seperti yang berulang kali diucapkan Netanyahu. Lalu, bagaimana mungkin Anda hadir dalam pembicaraan yang tujuannya sudah sangat transparan?”
Nada bicaranya keras, tanpa kompromi. “Kami tidak akan beristirahat, apalagi menyerah. Biarkan medan perang yang berbicara,” tegasnya.
Ketegangan sebenarnya sudah memuncak sejak awal Maret. Pemicunya adalah rentetan roket yang diluncurkan Hizbullah sebagai balasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akhir Februari lalu. Serangan itu mengubah segalanya.
Padahal, sebelumnya ada kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak November 2024. Namun, menurut laporan, Israel justru terus melancarkan serangan hampir setiap hari. Angkanya mengerikan: sejak saat itu, sedikitnya 2.055 orang tewas, termasuk anak-anak dan petugas medis. Ribuan lainnya terluka, dan sekitar 1,2 juta warga terpaksa mengungsi meninggalkan rumah mereka.
Di sisi lain, prioritas kedua pihak tampak berbeda jauh. Pemerintah Lebanon bersikukuh bahwa gencatan senjata harus diutamakan. Sementara Israel, lewat pernyataan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Sabtu lalu, punya agenda lain.
“Kami menginginkan pelucutan senjata Hizbullah, dan kami menginginkan perjanjian perdamaian sejati yang akan bertahan untuk generasi-generasi mendatang,” kata Netanyahu.
Qassem menyindir rencana pertemuan itu sebagai “konsesi cuma-cuma” yang diberikan Lebanon kepada musuhnya. Penolakannya ini sejalan dengan gelombang protes di jalanan Beirut. Ratusan orang turun ke jalan pada Jumat dan Sabtu, menuduh Perdana Menteri Nawaf Salam mengkhianati rakyat karena bersedia berdialog sementara serangan Israel justru kian menjadi.
Di lapangan, situasinya pun panas. Militer Israel mengklaim telah mengepung kota strategis Bint Jbeil di selatan Lebanon pada hari Senin. Sementara itu, Hizbullah menyatakan mereka terus menggempur posisi-posisi pasukan Israel di wilayah yang sama.
Qassem menutup pidatonya dengan peringatan keras. Wilayah Israel utara, katanya, tidak akan pernah aman meski Israel masuk lebih dalam ke Lebanon. Ia juga menyayangkan sikap Beirut yang sempat menyebut aktivitas militer Hizbullah ilegal di awal perang, sebuah langkah yang dianggapnya sebagai pengkhianatan.
“Israel dan AS dengan jelas ingin memperkuat tentara Lebanon untuk melucuti dan memerangi Hizbullah. Tapi tentara Lebanon tidak akan mampu melakukannya,” pungkasnya.
Jadi, jalan buntu. Diplomasi yang ditawarkan ditolak mentah-mentah, sementara di medan pertempuran, eskalasi terus berlanjut tanpa ada tanda-tanda reda.
Artikel Terkait
Mendagri Tito Tinjau Bantuan Bedah Rumah di Kendari, Alokasi 2026 Melonjak Jadi 8.973 Unit
CFD Ditiadakan pada 31 Mei 2026, Bertepatan Perayaan Waisak
Polisi Tangkap Pengendara Motor Bawa Satu Kilogram Ganja saat Razia di Karawaci
Pemprov DKI Hapus Denda Pajak Kendaraan Bermotor Mulai 1 Juni hingga 31 Agustus 2026