Krisis Resiliensi Global Ancam Generasi Muda, Pendidikan Diperlukan Berbenah

- Selasa, 14 April 2026 | 12:25 WIB
Krisis Resiliensi Global Ancam Generasi Muda, Pendidikan Diperlukan Berbenah

Zaman sekarang berubah dengan cara yang berbeda. Bukan lagi perlahan-lahan, tapi radikal dan seringkali tak terduga. Revolusi digital, kecerdasan buatan, dan dinamika global menciptakan sebuah realitas baru yang penuh ketidakpastian, kompleks, dan ambigu. Di tengah lanskap seperti ini, keunggulan manusia nggak cuma ditentukan oleh seberapa banyak ilmu atau keterampilan teknis yang dikuasai. Ada hal yang lebih krusial: ketangguhan mental, atau yang sering kita sebut resiliensi. Tapi, di balik kemajuan peradaban yang begitu pesat, ada sebuah paradoks yang cukup mengkhawatirkan.

Generasi yang secara intelektual makin berkembang, ternyata menyimpan kerentanan psikologis yang juga meningkat. Fenomena ini seperti alarm, menandai melemahnya kemampuan individu dalam menghadapi tekanan, mengelola kegagalan, dan beradaptasi. Inilah yang disebut krisis resiliensi.

Krisis Resiliensi Generasi: Bukan Isapan Jempol

Data-data empiris menunjukkan bahwa krisis ini nyata dan serius. Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2024 mencatat satu dari tujuh remaja usia 10-19 tahun mengalami masalah kesehatan mental. Di Indonesia, angkanya sekitar 15,5 juta remaja atau 34,9 persen, menurut data Kemenkes di tahun yang sama.

Di Singapura, sekitar 16,2 persen remaja dilaporkan mengalami depresi dan kecemasan. Sementara di Amerika Serikat, angka gangguan kecemasan mencapai 31,9 persen. Inggris bahkan mencatat peningkatan signifikan, dari 18,9 persen pada 2014 menjadi 25,8 persen pada 2024 menurut National Health Service. Data-data ini jelas membuktikan bahwa kita sedang menghadapi fenomena global yang tak bisa dianggap sepele.

Fenomena ini sering dijuluki "strawberry generation". Tapi, secara konseptual, istilah "strawberry mentality" mungkin lebih tepat. Sebab, ini bukan soal kategori usia, melainkan pola mental yang rapuh, daya tahannya rendah, dan cenderung menghindari tantangan. Prestasi akademik yang tinggi sama sekali tidak jadi jaminan seseorang akan tangguh.

Banyak studi justru melaporkan hal sebaliknya: generasi yang berprestasi secara akademik kerap menghadapi masalah resiliensi dalam kehidupan nyata.

Lalu, dari mana sebenarnya resiliensi itu datang? Ann S. Masten menegaskan bahwa ketangguhan mental bukanlah sifat bawaan. Ini adalah kapasitas dinamis yang berkembang lewat proses belajar dan interaksi dengan lingkungan. Singkatnya, resiliensi tumbuh justru dari pengalaman menghadapi tantangan, bukan dari kenyamanan yang berlebihan.

Pandangan ini sejalan dengan teori "cognitive appraisal" dari Richard Lazarus dan Susan Folkman. Intinya, cara kita memaknai sebuah peristiwa akan menentukan respons emosional dan perilaku kita. Jika kesulitan dilihat sebagai ancaman, stres meningkat dan kita cenderung kabur. Sebaliknya, jika dimaknai sebagai tantangan, respons adaptif akan muncul dan memperkuat ketangguhan kita.

Angela Duckworth, lewat konsep "grit"-nya, juga punya pendapat serupa. Menurutnya, ketekunan dan konsistensi dalam menghadapi hambatan adalah kunci keberhasilan jangka panjang. Jadi, ketangguhan mental bukan sekadar pelengkap. Ia adalah fondasi utama.

Masalahnya, sistem pendidikan kita saat ini belum sepenuhnya mengintegrasikan dimensi ketangguhan mental sebagai bagian esensial dari pembelajaran. Memang, pendidikan karakter sudah banyak digaungkan. Tapi dalam praktiknya, pendekatannya masih sering normatif dan belum benar-benar memasukkan resiliensi sebagai kapasitas inti yang harus dibangun.

Akibatnya, pendidikan masih didominasi paradigma yang berorientasi pada hasil. Fokusnya terlalu berat pada capaian kognitif yang bisa diukur secara kuantitatif. Proses belajar pun sering direduksi jadi aktivitas reproduksi pengetahuan, bukan ruang untuk membentuk kapasitas adaptif dan reflektif.

Dengan kata lain, ada kesenjangan yang lebar antara tujuan ideal pendidikan karakter dengan apa yang benar-benar terjadi di ruang kelas.

Kondisi ini makin parah karena faktor eksternal dan kultural. Budaya instan secara perlahan melemahkan kemampuan kita untuk menghargai proses dan menunda kepuasan. Ketergantungan pada hasil yang cepat mengikis ketekunan. Rendahnya keyakinan diri (self-efficacy) membuat orang cenderung memaknai tantangan sebagai ancaman, sehingga gampang menyerah.

Di sisi lain, lemahnya "grit" menghambat konsistensi dalam mencapai tujuan jangka panjang. Pola asuh yang terlalu protektif membatasi kemandirian dan keberanian mengambil risiko. Sistem evaluasi yang hanya fokus pada nilai akhir semakin mengabaikan pentingnya usaha dan proses.

Glen H. Elder, dalam "life course theory"-nya, menegaskan bahwa pengalaman di masa anak dan remaja punya konsekuensi jangka panjang. Fase ini adalah periode kritis untuk pembentukan struktur psikologis, termasuk resiliensi. Jadi, kegagalan sistem pendidikan dalam menanamkan ketangguhan mental sejak dini dampaknya akan sistemik dan berjangka panjang.

Implikasi krisis ini luas sekali. Pada level individu, muncul kerentanan terhadap stres, kecemasan, dan gangguan kesehatan mental. Di tingkat institusi, ini tercermin dari risiko burnout yang meningkat dan kapasitas kepemimpinan yang lemah. Sementara di level makro, krisis ini bisa menurunkan kualitas sumber daya manusia, melemahkan kohesi sosial, dan menggerus daya saing bangsa.

Lalu, Ke Mana Arah Pembenahannya?

Dalam konteks inilah, pembenahan sistem pendidikan jadi sebuah keharusan yang mendesak. Dan ini nggak bisa setengah-setengah. Perlu rekonstruksi paradigma pembelajaran secara fundamental. Pendidikan harus direorientasi. Bukan lagi sekadar proses transfer pengetahuan, tapi lebih sebagai proses pembentukan kapasitas adaptif dan ketangguhan mental.

Pada level praktik mengajar, pembelajaran perlu dirancang lebih sistematis dengan pendekatan berbasis bukti yang bisa menstimulasi resiliensi. Misalnya, dengan "desirable difficulties", yaitu menghadirkan kesulitan optimal untuk memperkuat daya tahan kognitif. Lalu ada "challenge-based learning" yang menempatkan siswa dalam konteks masalah nyata.

Yang tak kalah penting adalah pendekatan "productive failure". Di sini, kegagalan diposisikan sebagai bagian yang wajar dari proses belajar, bukan akhir segalanya.

Manu Kapur pernah bilang, siswa yang belajar dari kegagalan justru akan lebih sukses dibanding yang tidak.

Ia mengutip pepatah Tiongkok, "Orang pintar belajar dari kesalahan mereka sendiri, tetapi orang bijak belajar dari kesalahan orang lain."

Pandangan ini selaras dengan kata-kata Thomas A. Edison, "Saya tidak gagal. Saya hanya menemukan ribuan cara yang tidak berhasil."

Di luar aspek kognitif, penguatan refleksi spiritual juga tak boleh diabaikan, khususnya dalam konteks pendidikan Islam. Praktik seperti muhasabah dan tafakkur punya fungsi penting untuk membangun kesadaran diri, regulasi emosi, dan pencarian makna hidup. Dimensi spiritual ini bisa menjadi fondasi psikologis yang memperkuat resiliensi pada level yang lebih dalam.

Tapi, transformasi di tingkat pedagogis ini nggak akan berdampak signifikan kalau tidak didukung reformasi sistemik. Sistem evaluasi harus diubah. Dari yang hanya fokus pada hasil akhir, beralih ke sistem yang mengapresiasi proses, usaha, dan perkembangan individu. Ekosistem pendidikan guru, orang tua, pembuat kebijakan harus punya kesadaran kolektif untuk menciptakan lingkungan di mana siswa bisa berinteraksi secara sehat dengan kesulitan dan kegagalan.

Jika pembenahan ini dilakukan secara konsisten, pendidikan tidak hanya akan melahirkan individu yang cerdas, tapi juga tangguh secara psikologis dan matang secara emosional. Bahkan, bisa lahir generasi dengan "antifragile mindset", yang tidak hanya bertahan dalam tekanan, tapi justru bertumbuh karenanya.

Renald Kasali pernah mengatakan, "Generasi yang hebat tidak lahir dari air yang tenang, melainkan lahir dari terjangan ombak dan badai."

Pada akhirnya, pendidikan adalah proyek strategis peradaban. Krisis resiliensi generasi harus dibaca sebagai sinyal untuk segera bertindak. Tanpa langkah fundamental, kita berisiko terus memproduksi generasi yang pandai secara akademis tapi rapuh dalam menghadapi kehidupan. Sebaliknya, dengan sistem yang direkonstruksi dengan tepat, kita punya peluang membangun generasi yang adaptif, tangguh, dan berintegritas.


Prof. Dr. Susanto. Guru Besar dan Wakil Rektor Universitas PTIQ Jakarta. Mantan Ketua KPAI.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar