Desakan Jerman untuk Gencatan Senjata
Lewat sambungan telepon, Kanselir Jerman Friedrich Merz punya pesan tegas untuk Benjamin Netanyahu. Ia mendesak Perdana Menteri Israel itu agar segera menghentikan pertempuran yang berkecamuk di Lebanon selatan. Tak cuma berhenti di situ, Merz juga mendorong Netanyahu untuk langsung berunding dengan pemerintah Lebanon. Intinya, duduklah untuk bicara damai.
Menurut juru bicara pemerintah Jerman yang berbicara kepada AFP, Selasa lalu, percakapan itu memang berfokus pada upaya meredakan ketegangan. Namun begitu, perhatian Merz ternyata lebih luas.
Ia juga menyuarakan keprihatinan yang sangat mendalam soal situasi di wilayah Palestina. Dengan jelas, Merz menuntut agar tidak boleh ada upaya aneksasi, meski secara de facto, terhadap sebagian Tepi Barat. Poin ini ia sampaikan tanpa tedeng aling-aling.
Di sisi lain, Jerman ternyata masih ingin terlibat. Lewat juru bicaranya, Merz menawarkan dukungan berkelanjutan dari Berlin. Dukungan itu ditujukan untuk upaya mencapai kesepahaman diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Latar belakangnya adalah perang yang dilancarkan oleh Israel dan AS sejak akhir Februari lalu.
Perlu diingat, awalnya Merz justru menyambut baik serangan gabungan AS-Israel itu. Tapi sikapnya berubah. Kini, kekhawatiran yang lebih besar muncul. Apa pasal? Potensi dampak ekonomi global yang kian serius, ditambah serangan balasan Iran ke negara-negara Teluk, benar-benar mengancam akan melebarkan konflik jadi perang regional. Situasinya makin runyam.
“Jerman siap berkontribusi untuk memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, tetapi hanya setelah penghentian permusuhan dan dengan syarat kondisi yang diperlukan terpenuhi,”
Begitu penegasan dari juru bicara pemerintah Jerman. Pernyataan ini penting. Sebab, pengiriman minyak lewat selat sempit itu yang sebelumnya mengalirkan 20 persen pasokan minyak dunia nyaris terhenti total. Ancaman Iran untuk menyerang kapal tanker membuat semua pihak enggan melintas.
Belum lagi ada blokade angkatan laut parsial yang dideklarasikan Presiden AS Donald Trump. Blokade ini ia umumkan setelah negosiasi dengan Iran pada akhir pekan lalu mentok dan gagal total. Suasana di kawasan itu kini bagai bom waktu.
Artikel Terkait
Korban Kekerasan Pesantren di Bangka Alami Cedera Limpa, Kondisi Mulai Membaik
Kejati Riau Geledah Kantor KSOP dan Pelindo Dumai Terkait Dugaan Tindak Pidana Kepelabuhanan
Trump Klaim Presiden Xi Jinping Setop Pengiriman Senjata ke Iran
TNI AU Gelar Bazar Murah di Makassar untuk Rayakan HUT ke-80