Menko Airlangga: Ekonomi Indonesia Tangguh, Proyeksi Pertumbuhan 2025 Capai 5,11%

- Senin, 13 April 2026 | 20:45 WIB
Menko Airlangga: Ekonomi Indonesia Tangguh, Proyeksi Pertumbuhan 2025 Capai 5,11%

TVRINews, Jakarta

Penulis: Ricardo Julio


Di tengarai berbagai gejolak global yang tak menentu, kondisi ekonomi Indonesia dinilai tetap tangguh. Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Menurutnya, situasi sekarang ini jauh dari kata krisis dan punya perbedaan mendasar dengan kondisi kelam tahun 1998.

Optimisme itu punya dasarnya. Untuk tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mencapai 5,11 persen. Angka itu menempatkan kita di posisi kedua tertinggi di antara negara-negara G20, cuma kalah dari India. Di sisi lain, soal defisit anggaran, kita justru terlihat lebih berhati-hati. Defisit kita terjaga di bawah 3 persen jauh lebih rendah ketimbang India (4%), Prancis (4,4%), atau bahkan Amerika Serikat yang mencapai 6,3%.

Lembaga-lembaga internasional macam IMF dan Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi global bakal berkutat di angka 2,6 sampai 3,3 persen. Namun, ekonomi Indonesia tahun ini justru diprediksi bisa melesat hingga 5,3 persen. Bahkan, Airlangga menyimpan keyakinan lebih tinggi untuk kuartal pertama 2026.

"Jauh berbeda dengan situasi tahun 1998. Dari segi ekonomi makro, saya katakan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) adalah 5,11 persen. Dan proyeksi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan kuartal pertama tahun ini, kami optimis pertumbuhan Indonesia di kuartal pertama sekitar 5,5 persen,"

Demikian penjelasan Airlangga dalam Media Briefing bersama media internasional di Auditorium Bakom RI, Jakarta, Senin (13/4/2026).

Risiko resesi? Tampaknya kecil. Mengutip laporan Bloomberg, Indonesia masuk dalam kategori negara dengan risiko resesi sangat rendah, cuma 5 persen. Bandingkan dengan Brasil dan China (15%), atau Jepang dan AS yang risikonya mencapai 30 persen.

Lantas, apa yang membuat fondasi kita cukup kuat? Airlangga menyoroti peran ekonomi domestik yang menyumbang 54 persen dari PDB. Ketahanan pangan dan energi juga jadi penopang penting. Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia berhasil mencapai swasembada beras sejak 2025 dengan produksi mencapai 34,7 juta ton.

Di sektor energi, pemerintah terus mendorong kebijakan B50 dan pengembangan energi terbarukan. Sementara APBN difungsikan sebagai "peredam kejut" melalui berbagai bansos untuk masyarakat miskin. Hingga Maret 2026, cerah juga datang dari penerimaan pajak yang tumbuh 14,3 persen year-on-year, setara dengan Rp 462,7 triliun.

"Dan jika Anda melihat cadangan devisa masih sekitar USD 148,2 miliar, itu setara dengan enam bulan impor,"

tambah Airlangga.

Indikator sosial pun menunjukkan tren membaik. Tingkat kemiskinan berhasil ditekan jadi 8,25 persen, kesenjangan turun ke level 0,363, dan pengangguran ada di angka 4,7 persen.

Soal utang pemerintah? Rasionya kini di angka 40,46 persen terhadap PDB, atau sekitar Rp 9.637,9 triliun. Namun begitu, Airlangga menegaskan bahwa risiko guncangan dari luar tetap bisa dikendalikan. Alasannya sederhana: sebagian besar pinjaman berasal dari dalam negeri.

"Jika Anda melihat detail utang kita, sebagian besar berasal dari dalam negeri. Jadi, risiko guncangan eksternal terkendali,"

tutupnya.


Editor: Redaktur TVRINews

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar