Jakarta – Hujan dan angin ganas menggulung Coachella dini hari itu. Di tengah keriuhan festival, sebuah pengumuman darurat tiba-tiba beredar: Anyma batal tampil. Kabar itu langsung memupus harapan ribuan penonton yang sudah menanti di depan panggung utama.
Matteo Milleri, sosok di balik proyek audiovisual Anyma, terlihat hancur. Melalui unggahan di akun X-nya, ia mengungkapkan betapa pahitnya keputusan pembatalan itu. “Saya sangat patah hati,” tulisnya, Minggu (12/4/2026). Rasa sedih dan permintaan maaf yang tulisannya itu terasa begitu jujur, jauh dari sekadar pernyataan resmi yang biasa.
“Tidak banyak kata yang bisa saya ucapkan selain rasa sedih dan permintaan maaf yang tulus kepada semua orang yang sudah hadir di panggung utama maupun yang menonton lewat livestream,”
Bagi Milleri, ini bukan sekadar jadwal yang kosong. Persiapan untuk pertunjukan ÆDEN itu sudah dilakoni dengan kerja keras setahun lamanya. Ia dan timnya, termasuk kru Coachella, mencurahkan segalanya. Jadi, ketika angin kencang menerjang, lebih dari sekadar rencana yang berantakan.
“Kesempatan untuk menampilkan pertunjukan ÆDEN yang baru dan membagikan semua musik serta karya seni barunya ini sangat berarti bagi saya, lebih dari yang bisa saya ungkapkan,”
“Rasanya sungguh menyakitkan, terutama setelah bekerja siang dan malam selama setahun terakhir.”
Angin yang Mengubah Segalanya
Semuanya berubah cepat sekitar pukul 00:17 dini hari. Notifikasi darurat dari penyelenggara tiba-tiba muncul di ponsel penonton. Saat itu, Sabrina Carpenter baru saja turun panggung, dan seharusnya giliran Anyma.
Menurut sejumlah saksi, angin berkecepatan 35-40 mph sekitar 60 km/jam menerpa lokasi festival tanpa ampun. Beberapa tenda di area perkemahan bahkan roboh. Dalam kondisi seperti itu, mendirikan panggung futuristik Anyma yang rumit sama sekali mustahil. Bahaya nyata mengintai.
“Angin kencang yang berbahaya tidak hanya menghalangi kami dan Coachella untuk mendirikan panggung, tetapi juga membuat seluruh peralatan pertunjukan langsung dan penampilan saya tidak dapat dijalankan dengan aman,” jelas Milleri.
Di sisi lain, meski jadwal akhir pekan pertama sudah padat, Milleri belum menyerah. Ia masih berusaha mencari celah, setidaknya untuk menyuguhkan musik kepada para penggemar setianya. Tapi ia juga sadar, harus fair pada artis lain yang sudah terjadwal.
“Saya sedang mencari cara agar setidaknya bisa menyajikan musik untuk kalian, tapi saya tidak ingin mengganggu slot waktu para artis lainnya. Kabar terbaru akan segera menyusul,”
Malam itu, Coachella mungkin kehilangan satu pertunjukan yang dinanti. Tapi di balik layar, yang tersisa adalah kekecewaan seorang seniman dan timnya, setelah berbulan-bulan berdarah-dadu untuk sebuah momen yang akhirnya direnggut cuaca.
Artikel Terkait
Indonesia Kembali Desak Reformasi Dewan Keamanan PBB, Nilai Hak Veto Hambat Suara Negara Berkembang
Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selama Cuti Bersama Idul Adha 1447 H
Wamendesa: Kritik pada Program Pemerintah Bagian dari Demokrasi, Semua Pihak Diajak Bangun Desa
China Serukan Gencatan Senjata Komprehensif di Kawasan Teluk dalam Pertemuan PBB