Nadanya keras. “Tidak ada kompromi lagi. Jadi premanisme di Jakarta, saya sebagai gubernur, saya tidak ragu-ragu untuk itu,” tambahnya. Pernyataan itu sekaligus jadi peringatan bagi siapa saja yang masih nekad menjalankan aksi serupa.
Menurut informasi yang beredar, kejadian pemalakan ini terjadi pada Jumat (10/4). Modusnya klasik: uang setoran. Seorang sopir bahkan mengaku harus merogoh kocek Rp 100 ribu per hari. Bayangkan, berapa banyak penghasilannya yang terkuras. Kalau menolak? Ancaman selalu mengintai, mulai dari teriakan ‘maling’ hingga kekerasan fisik. Situasi yang bikin gerah.
Di sisi lain, pihak kepolisian pun mulai bergerak. Kapolsek Tanah Abang, AKBP Dhimas Prasetyo, menyebut penyelidikan sudah dilakukan. Mereka berusaha melacak pelaku di video viral itu. “Saat ini anggota masih melakukan lidik untuk menemukan pelaku yang diduga melakukan pemalakan,” jelas Dhimas, Minggu (12/4).
Tak hanya sendiri, Polisi juga menggandeng sejumlah pihak. Ada koordinasi dengan Kecamatan, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan. Rencananya, akan digelar patroli bersama di titik-titik yang rawan pungutan liar. Upaya konkret untuk meredam praktik yang sudah mengganggu ketenteraman ini.
Soal premanisme di ibu kota, memang seperti api dalam sekam. Sekali ada pemicu, langsung menyala. Respons cepat dari pemimpin dan penegak hukum setidaknya memberi sedikit harapan. Warga, terutama para sopir bajaj, tentu berharap tindakan tegas ini bukan sekadar wacana di depan kamera.
Artikel Terkait
Hujan Deras dan Angin Kencang Tumbangkan Pohon dan Rusak Fasilitas di Ruas Tol Jakarta
Suroboyo 10K 2026 Dijadwalkan 7 Juni, Targetkan 3.000 Pelari
Polres Dharmasraya Amankan Lima Pria Terkait Peredaran Sabu di Pulau Punjung
Kasal Laksamana Muhammad Ali Sidak Mendadak, Uji Kesiapan Marinir di Hari Libur