Nah, bentuk konkretnya seperti apa? Salah satunya, penyediaan jalur khusus atau fast track di bandara. Bayangkan, atlet yang baru saja menempuh penerbangan panjang tak perlu lagi berdesak-desakan mengantre di pemeriksaan dokumen. Mereka bisa langsung menuju tempat istirahat atau persiapan latihan.
Alasannya sederhana tapi masuk akal. Antrean panjang berpotensi menguras energi dan memengaruhi mood atlet. “Hal itu akan berujung kerugian bagi klub-klub nasional yang dibela,” ujar Hendarsam, merujuk pada liga seperti IBL. Performa di lapangan bisa saja terdampak oleh kelelahan birokrasi yang sebenarnya bisa dihindari.
Di sisi lain, kehadiran atlet-atlet asing ini bukan cuma soal meningkatkan kualitas kompetisi. Mereka, dalam pandangan Hendarsam, juga berperan sebagai duta yang membawa citra Indonesia ke kancah global. Tentu saja, semua kemudahan ini tidak serta merta menghilangkan fungsi pengawasan Imigrasi. Pendekatannya akan lebih pada pembinaan dan pencegahan, termasuk memberi edukasi kepada WNA yang bekerja di sini.
Harapannya ke depan, kebijakan ini tak cuma memperkuat ekosistem olahraga dalam negeri. Tapi juga mendongkrak pergerakan ekonomi, seiring dengan semakin seringnya Indonesia menjadi tuan rumah event olahraga bertaraf internasional. Langkah kecil di konter imigrasi, bisa jadi awal dari sebuah lompatan besar bagi olahraga nasional.
Artikel Terkait
AS Kirim Kapal Perang Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz, Iran Ancam Tindak Tegas
Gencatan Senjata AS-Iran Hanya Jeda, Pasar Global Masih Limbung
Konsumen Kendaraan Niaga Pilih Suku Cadang Berdasarkan Frekuensi Penggantian
Perundingan Nuklir AS-Iran di Pakistan Gagal Lagi, Vance Soroti Penolakan Komitmen Jangka Panjang