Saka Yoga Festival Digelar, Pemerintah Pacu Wellness Tourism Indonesia

- Sabtu, 11 April 2026 | 20:15 WIB
Saka Yoga Festival Digelar, Pemerintah Pacu Wellness Tourism Indonesia

Di bawah terik matahari Jakarta, Lapangan Aldiron tiba-tiba berubah jadi hamparan matras warna-warni. Sabtu lalu, 11 April 2026, sekitar seribu lima ratus orang berkumpul bukan untuk demo, tapi untuk mencari ketenangan. Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Enik Ermawati, hadir membuka Saka Yoga Festival yang kedelapan kalinya digelar. Acara ini bukan cuma sekadar festival biasa. Bagi pemerintah, ini adalah langkah nyata untuk mendongkrak nama Indonesia di peta wellness tourism global.

Rupanya, festival yoga ini punya kaitan erat dengan agenda besar lainnya. Ia adalah bagian dari rangkaian menyambut puncak Dharma Santi Nasional yang bakal digelar di Bali pekan depan. Dalam sambutannya, Wamen Enik Ermawati menegaskan satu hal: pariwisata berkualitas harus berakar pada kearifan lokal. Bukan cuma soal jumlah wisatawan, tapi lebih pada nilai dan pengalaman yang mereka dapatkan.

“Kami dari Kementerian Pariwisata sudah memasukkan wellness tourism ini sebagai bagian dari program prioritasnya, yaitu pariwisata berkualitas,” ujar Ni Luh Puspa.

“Kita terus mendorong bagaimana agar semakin banyak event maupun industri yang bergerak di bidang wellness,” tambahnya.

Jadi, selain jadi ajang olahraga dan napas spiritual, Saka Yoga Festival diharapkan bisa memperkuat branding Indonesia. Targetnya, dunia internasional melihat negeri ini sebagai tujuan utama untuk wisata kesehatan dan spiritual.

Strateginya sudah mulai terlihat. Pemerintah saat ini fokus membangun tiga wilayah jadi pilar utama: Bali, Yogyakarta, dan Solo. Tapi ambisinya tidak berhenti di sana. Ke depan, diharapkan makin banyak daerah lain yang muncul dengan keunikan lokalnya masing-masing. Bayangkan, dari Sabang sampai Merauke punya paket wellness yang khas dan autentik.

Namun begitu, dukungan pemerintah nggak cuma lewat event seremonial belaka. Ni Luh Puspa menegaskan, pengembangan industri yang konsisten di bidang kesehatan dan kebugaran juga terus didorong. Artinya, perlu ekosistem yang solid, dari hulu ke hilir, agar wellness tourism ini benar-benar hidup dan berkelanjutan. Bukan sekadar euforia sesaat.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar