"Jadi, Saudara-saudara, yang agak repot," lanjut Prabowo. "Mungkin 100 orang, 200 orang, bisa bikin heboh."
Inilah yang dalam dunia intelijen dikenal sebagai 'echo chamber', ruang gema yang bisa memanipulasi opini publik secara masif. Menurutnya, cara-cara seperti ini sudah jadi senjata baru dalam perang modern.
"Dulu kirim pasukan, kirim bom. Sekarang tidak perlu. Mungkin dengan permainan socmed, dengan fitnah, hoaks," paparnya.
Namun begitu, Prabowo tak cuma mengeluh. Dia meminta seluruh jajaran pemerintahannya untuk tetap waspada. Setiap informasi yang beredar, terutama di media sosial, harus disikapi dengan hati-hati.
"Nggak, ini mau saya sampaikan, ini masalah bagi kita. Kita waspada," tegasnya.
Terhadap fitnah dan hujatan yang mungkin muncul, dia punya cara pandang sendiri. "Anggaplah itu sebagai peringatan supaya kita waspada, iya kan," kata Prabowo menutup pernyataannya. Pesannya jelas: di era di mana kebenaran mudah dipelintir, kewaspadaan adalah tameng utama.
Artikel Terkait
Wisatawan Tewas Hanyut di Air Terjun Tibu Ijo Lombok Barat
Kim Geonwoo ALPHA DRIVE ONE Hiatus, Grup Lanjut Promosi dengan Tujuh Anggota
Bigmo Minta Maaf Langsung kepada Azizah Salsha, Akhiri Konflik Hukum
Surabaya Blokir Layanan Publik bagi Mantan Suami Lalai Bayar Nafkah