Penyebaran kasus campak dan rubella di Jawa Tengah masih jadi perhatian serius. Data terbaru dari Dinas Kesehatan provinsi menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan. Di Kabupaten Kudus saja, misalnya, tercatat 501 kasus. Menyusul Brebes dengan 202 kasus, lalu Cilacap 119, Pati 72, dan Klaten 54. Daerah-daerah lain juga melaporkan temuan serupa.
Nah, dari sekian banyak laporan itu, setelah melalui pemeriksaan laboratorium, terkonfirmasi ada 144 kasus positif campak dan 18 kasus rubella. Cilacap jadi wilayah dengan kasus campak tertinggi, yakni 21 kasus. Disusul Banyumas dan Pati, masing-masing 20 kasus. Sementara di Klaten, ada 6 kasus campak dan 1 rubella yang sudah dipastikan.
Menanggapi situasi ini, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa penanganan campak adalah prioritas. Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota kini bergerak bersama.
"Kita di Klaten ini untuk mengecek vaksin campak yang sekarang menjadi atensi di Jawa Tengah. Beberapa kabupaten/kota sudah kita lakukan deteksi dini," ujar Luthfi.
Pernyataannya itu disampaikan saat meninjau langsung imunisasi di Puskesmas Klaten Tengah, Rabu lalu.
Menurutnya, upaya menggalakkan imunisasi harus dilakukan serentak. Tujuannya jelas: mencegah penyebaran yang lebih luas, agar tidak sampai mewabah. Di tengah kunjungannya, Luthfi juga menyempatkan berpesan kepada para orang tua.
Ia meminta masyarakat segera melengkapi vaksinasi anak-anak mereka. Kewaspadaan terhadap gejala seperti ruam merah dan demam juga perlu ditingkatkan. "Kalau menemui ciri-ciri itu, segera bawa ke dokter atau puskesmas terdekat," pesannya.
"Pencegahan harus masif dan harus punya pola hidup sehat dan makanan yang bergizi," tambah Luthfi.
Untuk mempercepat cakupan imunisasi, Pemprov Jateng punya strategi. Mereka akan mengintegrasikannya dengan program yang sudah jalan, seperti dokter spesialis keliling (Speling) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program ini dianggap tepat karena jangkauannya sudah sampai ke pelosok desa.
"Campak ini prioritas utama. Termasuk penyakit seperti TBC yang juga masuk prioritas nasional. Harapannya ya masyarakat sehat," tutur Luthfi menekankan.
Di sisi lain, dari sudut pandang teknis kesehatan, Heri Purnomo selaku Kabid P2P Dinas Kesehatan Jateng memberi penjelasan. Kasus suspek campak banyak menimpa anak-anak, tapi bukan berarti orang dewasa aman.
"Yang daya tahan tubuhnya rendah, tetap berisiko," jelas Heri.
Ia lalu menguraikan langkah pencegahan. "Yang paling penting ya imunisasi. Lalu kalau sakit, pakai masker, isolasi, dan jaga jarak. Jangan lupa pola hidup sehat dan konsumsi makanan yang bisa meningkatkan imunitas."
Di lapangan, respons warga terlihat positif. Seperti yang diungkapkan Kiki Kumala, seorang ibu muda. Baginya, kegiatan imunisasi ini sangat krusial.
Ini adalah kali kedua anaknya yang masih berusia hampir 4 bulan mendapatkan vaksin campak. "Penting banget buat masa depannya," katanya singkat.
Artikel Terkait
Wakil Ketua MPR Desak Pemerintah Bawa Kasus Penculikan WNI oleh Israel ke Mahkamah Internasional
Remaja 14 Tahun Dibacok di Kepala saat Tawuran Dua Geng di Cikupa, Polisi Tangkap Pelaku dalam 24 Jam
16 Armada Angkutan Barang Terjaring Razia Gabungan di Ancol, Didominasi Pelanggaran Dokumen dan Muatan Berlebih
Potensi Ekonomi Haji dan Umrah Rp60 Triliun per Tahun Dinilai Belum Maksimal, Pasokan Pangan Jemaah Masih Impor