Trump Ancam Hancurkan Sipil Iran dalam 4 Jam Jelang Tenggat Selat Hormuz

- Selasa, 07 April 2026 | 09:15 WIB
Trump Ancam Hancurkan Sipil Iran dalam 4 Jam Jelang Tenggat Selat Hormuz

Donald Trump kembali membuat pernyataan yang mengguncang. Presiden Amerika Serikat itu mengancam bakal meluluhlantakkan Iran, tak terkecuali situs-sipilnya. Ancaman ini ia sampaikan jelang batas akhir ultimatumnya soal pembukaan Selat Hormuz. Yang lebih mengejutkan, Trump menyebut rencana penghancuran total itu bisa dijalankan hanya dalam waktu empat jam.

Menurut laporan Al Jazeera, Selasa (7/4/2026), targetnya jelas: jembatan dan pembangkit listrik di seluruh Iran. Rencana itu digambarkan sangat rinci dan mengerikan.

"Kami punya rencana," ujar Trump tegas.

"Berkat kekuatan militer kami, setiap jembatan di Iran akan hancur lebur tepat pukul 12 tengah malam besok. Setiap pembangkit listrik akan berhenti total terbakar, meledak, dan tak akan bisa dipakai lagi. Ini penghancuran total, pada pukul yang sama."

Ia lalu menambahkan, nada suaranya sedikit berubah, "Dan itu semua bisa terjadi dalam kurun empat jam jika kami mau. Tapi kami sebenarnya tidak menginginkannya."

Jadwalnya ketat. Aksi ini disebutkan akan terjadi pada tengah malam hari Rabu waktu setempat, atau persis empat jam setelah tenggat waktunya untuk kesepakatan pembukaan Selat Hormuz.

Sebenarnya, ini bukan ancaman pertama. Awalnya, pada 21 Maret lalu, Trump sudah mengancam akan "menghancurkan" pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar. Syaratnya waktu itu: Iran harus membuka Selat Hormuz sepenuhnya dan tanpa ancaman dalam 48 jam.

Namun begitu, situasi sempat berubah. Dua hari setelah ancaman pertama, Trump menyebut ada "percakapan yang sangat baik dan produktif" dengan otoritas Iran. Ia pun menunda serangan yang direncanakan selama lima hari.

Penundaan itu ternyata berlanjut. Batas waktu akhirnya diulur lagi, hingga berakhir pada pukul 20.00 waktu setempat hari Senin, atau pukul 00.00 GMT hari Selasa. Sekarang, dunia kembali menunggu, melihat apakah ancaman terbaru ini benar-benar akan diwujudkan atau hanya menjadi bagian dari drama geopolitik yang tak kunjung usai.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar