Suasana Khidmat dan Antrean Panjang Warnai Misa Paskah di Katedral
Hari Minggu pagi itu (5/4/2026), Gereja Katedral Jakarta sudah ramai sejak lama. Umat Katolik berduyun-duyun datang, memenuhi setiap sudut untuk merayakan Misa Paskah, hari kebangkitan Yesus Kristus. Antrean panjang terlihat mengular di depan pintu masuk, diamankan dan diperiksa dengan cermat oleh para petugas gereja.
Di dalam, suasana hening dan khidmat segera menyergap. Rangkaian ibadah, mulai dari liturgi sabda hingga perayaan Ekaristi, diikuti dengan penuh penghayatan oleh jemaat. Tak semua mendapat tempat duduk. Sebagian memilih atau terpaksa ikut merayakan dari luar, mengandalkan layar besar yang sudah disiapkan. Meski begitu, kekhusyukan mereka tak berkurang sedikitpun.
Dalam homilinya, Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, mengangkat tema yang terdengar relevan sekaligus mendesak: pertobatan ekologis. Ia menegaskan, kepedulian pada keutuhan alam ciptaan adalah pesan sentral perayaan Paskah tahun ini.
“Maka ekologi integral, pertobatan ekologis itu artinya pertobatan moral, hati nurani. Itu yang paling penting,” tegas Suharyo.
Menurutnya, kerusakan alam yang kita saksikan bukanlah hal yang berdiri sendiri. Itu semua berakar dari keserakahan dan hilangnya solidaritas antar manusia.
Kardinal lalu memperluas pemahaman tentang ekologi integral. Ini bukan cuma persoalan teknis seperti listrik, sampah, atau menanam pohon. Lebih dari itu, ia menyebutnya sebagai ekosistem dunia yang utuh. Dan keserakahan, baik perorangan maupun berbangsa, adalah racun yang mengganggu peradaban.
“Kalau orang serakah, ya namanya saja tidak bagus. Apakah dia akan memperhatikan saudara-saudaranya yang kekurangan? Kalau memperhatikan, namanya bukan serakah, namanya orang kaya yang baik hati,” ujarnya dengan nada tegas.
“Tetapi selama dunia ini penuh dengan keserakahan, apalagi kalau didukung kekuatan senjata, habislah yang namanya peradaban itu,” sambungnya.
Di sisi lain, Paskah sendiri ia gambarkan sebagai perjalanan dari kegelapan menuju titik terang. Dalam konteks tantangan dunia saat ini, ia mengajak umat untuk tak menyerah.
“Semangat Paskah mengajak kita, di tengah keadaan apa pun, untuk tetap berjuang. Teguh dalam iman, kokoh dalam harapan, dan tetap menyala dalam kasih,” pungkas Kardinal Suharyo mengakhiri homili.
Misa pun berakhir. Umat beranjak keluar dengan wajah tenang, membawa serta pesan kebangkitan yang kali ini berwarna hijau sebuah seruan untuk menjaga bumi, rumah bersama.
Artikel Terkait
Macron Puji Ketegasan Prabowo Perjuangkan Perdamaian dan Kedaulatan Palestina
Pelayanan Haji 2026 Meningkat Signifikan, Jemaah Tak Temukan Keluhan Berarti
48 Tewas dalam Bentrokan Faksi FARC di Amazon Kolombia Jelang Pemilu Presiden
Kementerian PKP Validasi 188 Lokasi Tanah untuk Percepatan Pembangunan Rusun dan Kota Satelit