Trump Klaim Iran Minta Gencatan Senjata, Tuntut Buka Selat Hormuz

- Rabu, 01 April 2026 | 22:15 WIB
Trump Klaim Iran Minta Gencatan Senjata, Tuntut Buka Selat Hormuz
Trump dan Isyarat Gencatan Senjata dari Iran

Trump Sebut Pimpinan Iran Minta Gencatan Senjata, Tapi Ada Syaratnya

Foto: AP Photo

Lewat sebuah unggahan di Truth Social, Rabu (1/4/2026), Donald Trump membuat pernyataan yang cukup mengejutkan. Mantan presiden Amerika Serikat itu mengklaim bahwa seorang pejabat tinggi Iran telah meminta penghentian permusuhan dalam konflik di Timur Tengah.

Namun begitu, Trump langsung memberi catatan. Washington, katanya, tak akan mempertimbangkan permintaan itu sebelum Selat Hormuz dibuka kembali untuk lalu lintas kapal tanker. "Kita akan mempertimbangkannya ketika selat itu terbuka, bebas, dan jelas," tulisnya.

Dalam postingannya, Trump tampak merujuk pada pemimpin baru Iran. "Presiden rezim baru Iran, jauh kurang radikal dan jauh lebih cerdas daripada pendahulunya, baru saja meminta Amerika Serikat untuk gencatan senjata!" tulisnya. Perlu dicatat, Iran memang memiliki pemimpin tertinggi baru, meski bukan presiden baru.

Dia tak berhenti di situ. Ancaman disampaikan dengan gaya khasnya. Sampai selat itu dibuka, “kita akan menghancurkan Iran hingga tak berbekas atau, seperti yang mereka katakan, kembali ke Zaman Batu!!!"

Selat Hormuz sendiri sudah ditutup berminggu-minggu. Kapal-kapal yang coba melintas menghadapi ancaman serangan Iran. Efeknya global: tekanan inflasi meroket dan prospek ekonomi memburuk di mana-mana.

Di sisi lain, tanggapan dari Iran datang dari Ebrahim Azizi, Kepala Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran. Dia bilang Selat Hormuz akan dibuka kembali, tapi hanya untuk "mereka yang mematuhi hukum baru Iran."

"Trump akhirnya mencapai mimpinya tentang 'perubahan rezim' -- tetapi dalam rezim maritim kawasan ini," kata Azizi lewat media sosial.

Parlemen Iran sebelumnya sudah menyetujui proposal yang mengenakan bea masuk pada kapal yang lewat. Jadi, situasinya rumit.

Isu Penarikan Diri dan Pidato Penting

Selain soal Iran, Trump juga menyentuh isu lain yang tak kalah panas. Dalam percakapan dengan Reuters, dia menyatakan AS sedang mempertimbangkan untuk menarik diri dari NATO, aliansi pertahanan Atlantik Utara itu.

Keputusan itu, menurutnya, menyusul penolakan NATO untuk bergabung dalam perang di Iran. Dia bahkan menyebut aliansi itu "macan kertas." Trump dijadwalkan berpidato tentang perang Iran pada Rabu malam waktu AS, dan isu NATO kemungkinan akan dibahas.

Namun, menarik diri dari NATO bukan perkara mudah. Undang-undang tahun 2023 mensyaratkan persetujuan dua pertiga Senat atau undang-undang baru dari Kongres untuk hal itu.

Salah satu target kemarahan Trump adalah Inggris, sekutu tradisional AS. Perdana Menteri Keir Starmer tetap menolak seruan Washington untuk terlibat dalam serangan. Trump dengan sinis mengatakan Starmer bisa "melakukan apa pun yang dia inginkan."

Menanggapi hal itu, Starmer bersikukuh. "Apa pun kebisingannya, saya akan bertindak demi kepentingan nasional Inggris dalam keputusan yang saya buat," ujarnya.

Dampak ke Pasar dan Masa Depan Konflik

Di tengah semua ketegangan ini, pasar finansial justru menyambut sinyal deeskalasi. Kontrak berjangka indeks saham AS naik pada Rabu, menunjukkan optimisme bahwa reli pasar mungkin berlanjut. Saham-saham di Wall Street memang terpukul sejak perang meletus akhir Februari lalu.

Harga minyak pun bereaksi. Setelah komentar Trump, harga minyak mentah Brent turun 1,7 persen ke level USD102,25 per barel. West Texas Intermediate bahkan turun 2,4 persen. Sebelum perang, harga Brent masih sekitar USD70 per barel jadi gejolaknya masih terasa.

Tapi para analis hati-hati. Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan, atau skema bea masuk Iran, bisa saja membuat harga minyak tetap tinggi dalam jangka pendek.

"Harapan deeskalasi telah mendorong pasar, tetapi kami pikir dampak perang, dalam banyak kasus, akan tetap ada bahkan jika perang segera berakhir," kata Thomas Mathews, Kepala Pasar Asia Pasifik di Capital Economics.

Operasi militer di lapangan masih berlangsung. Trump mencatat AS telah "menghancurkan sejumlah besar fasilitas pembuatan rudal." Sementara itu, Israel terus menargetkan situs di Teheran dan Iran tengah, serta Beirut. Iran sendiri membalas dengan mengirimkan proyektil ke Israel dan negara-negara Teluk.

Jadi, meski ada isyarat gencatan senjata, jalan menuju perdamaian masih panjang dan berliku. Semuanya bergantung pada syarat-syarat yang, untuk saat ini, tampaknya sulit dipenuhi kedua belah pihak.

(Febrina Ratna Iskana)

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar