China Dukung Mediasi Pakistan untuk Redakan Ketegangan AS-Iran

- Selasa, 31 Maret 2026 | 09:30 WIB
China Dukung Mediasi Pakistan untuk Redakan Ketegangan AS-Iran

Beijing. Di tengah ketegangan yang terus memanas antara Washington dan Teheran, China secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap upaya mediasi yang digalang Pakistan. Tak sendirian, Pakistan bergerak bersama Arab Saudi, Turki, dan Mesir dalam upaya meredakan perang yang mengancam stabilitas kawasan.

“China mendukung semua upaya untuk meredakan ketegangan,” tegas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning dalam sebuah konferensi pers di Beijing, Senin (30/3). Ia menambahkan, pihaknya mengapresiasi langkah Pakistan dan mendorong negara itu untuk terus menjalankan peran mediatornya. Menurut Mao, dialog adalah satu-satunya jalan keluar.

“Kami menyerukan semua pihak untuk memulai pembicaraan perdamaian sesegera mungkin,” tambahnya. China siap berkoordinasi dengan Pakistan dan pihak lain untuk mencapai gencatan senjata. Konflik berkepanjangan, kata Mao, tidak menguntungkan siapa pun.

Di sisi lain, pernyataan dari Iran justru terasa lebih dingin. Juru Bicara Kemenlu Iran, Esmaeil Baqaei, mengklarifikasi bahwa negosiasi langsung dengan AS belum terjadi. “Kontak yang ada baru sebatas pesan yang disampaikan melalui perantara,” ujarnya pada hari yang sama.

Baqaei bahkan mempertanyakan niat diplomatik Amerika. “Saya tidak tahu berapa banyak orang di AS yang menganggap serius klaim diplomasi Amerika,” katanya dengan nada skeptis. Ia menegaskan posisi Iran yang konsisten, berbeda dengan pihak lain yang dianggapnya plin-plan.

Soal pertemuan yang diinisiasi Pakistan, Baqaei menyebut Iran tidak ikut serta. “Baik jika negara-negara di kawasan ingin mengakhiri perang,” ucapnya, “tetapi mereka harus paham betul siapa yang memulainya.”

Namun begitu, ada secercah harapan dari pernyataan Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar. Dar mengklaim bahwa AS dan Iran sama-sama menyatakan kepercayaan pada Pakistan untuk memfasilitasi dialog. Pakistan, katanya, bersedia menggelar pembicaraan yang berarti dalam beberapa hari ke depan demi solusi yang komprehensif.

Lebih lanjut, Dar mengungkapkan bahwa para menteri luar negeri dari Pakistan, Arab Saudi, Mesir, dan Turki telah sepakat membentuk sebuah komite. Komite beranggotakan empat pejabat senior ini akan merumuskan teknis pelaksanaan mediasi melalui konsensus bersama.

Sementara itu, dari Washington, Presiden AS Donald Trump terdorong oleh upaya diplomatik ini. Ia menyebut pembicaraan tidak langsung melalui ‘utusan’ Pakistan menunjukkan kemajuan. Trump berpendapat kesepakatan bisa dicapai dengan cepat.

Tapi pernyataannya yang lain justru kontradiktif. Trump mengungkapkan keinginan untuk mengambil alih minyak Iran, mirip dengan langkah AS di Venezuela. Pernyataan ini muncul bersamaan dengan peningkatan pengerahan militer AS di Timur Tengah.

Pentagon dikabarkan mengirim ribuan pasukan tambahan. Mereka juga membahas berbagai skenario operasi, termasuk target di Pulau Kharg dan Selat Hormuz titik-titik vital bagi ekonomi dan keamanan Iran.

Ketegangan ini berakar dari serangan AS dan Israel terhadap Iran akhir Februari lalu, yang menewaskan banyak orang, termasuk pemimpin tertinggi mereka saat itu. Iran pun membalas. Serangan balasan dengan drone dan rudal itu menyasar beberapa negara, menimbulkan korban jiwa, kerusakan, dan mengacaukan pasar global.

Situasinya rumit. Di satu sisi, ada jalan diplomasi yang mulai dirintis. Di sisi lain, persiapan militer dan retorika keras justru semakin mengeras. Nasib kawasan kini tergantung pada ketulusan semua pihak yang terlibat.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar