Di sebuah pesantren, hiduplah seorang santri bernama Luqman. Ia bukan santri sembarangan. Ia adalah ahli nahwu yang sanggup mencari alasan logis mengapa kata cinta dianggap sebagai isim ghairu munsharif. Baginya, status itu merupakan alegori dari perasaan yang susah bergeser jika sudah menempel di dalam hati.
Namun, masalahnya hanya satu: Luqman sedang jatuh cinta. Objek pengamatannya adalah Fatimah, santriwati yang jika lewat di depan kompleks putra dengan jarak aman 50 meter, langsung membuat hafalan Alfiyyah Luqman mendadak hilang. Hafalan yang semula sudah di luar kepala itu seketika terasa pindah ke lutut.
Sebagai santri yang dibesarkan dengan didikan kitab kuning, Luqman tahu betul bahwa pacaran adalah jalur ekspres menuju murka kiai. Aktivitas tersebut juga dapat menghilangkan barakah ilmu. Ia teringat sebuah nasihat dalam kitab Al-Mustashfa karya Imam al-Ghazali: "Dikatakan mengenai al-’isyq (cinta yang mendalam) bahwa ia adalah melampaui batas dalam mencintai. Namun, semestinya dikatakan bahwasanya ia adalah cinta yang melampaui batas."
Luqman sadar, jika ia nekat menyatakan cinta sekarang, hal itu tidak akan berakhir di akad nikah. Langkah ceroboh tersebut justru akan membawanya ke "akad takzir" berupa hukuman gundul massal. Belum lagi, ia teringat bahwa fokus utamanya saat ini adalah muthala’ah. Ia tidak boleh sibuk memikirkan pesan WhatsApp berisi pertanyaan "Sudah makan belum?" yang menurutnya sama sekali tidak berbobot secara epistemologis.
Bagi Luqman, mencintai dalam diam adalah bentuk ijtihad. Ia tidak ingin mengganggu hafalan Fatimah yang mungkin sedang berjuang menghafal bait-bait nadham Maqshud. Baginya, menyatakan cinta saat masih mondok itu ibarat memasukkan amil nawashib ke dalam kalimat yang sudah marfu’. Tindakan tersebut hanya akan merusak tatanan yang sudah mapan.
Luqman mempunyai prinsip teguh yang ia kutip dari kitab Adab al-Dunya wa al-Din karya Al-Mawardi: "Barangsiapa yang memenangkan akalnya atas syahwatnya, maka ia lebih baik daripada malaikat. Barangsiapa yang memenangkan syahwatnya atas akalnya, maka ia lebih buruk daripada hewan."
"Tenangkan hatimu, Luqman," bisik tekadnya pada diri sendiri sambil memegang kitab Fathul Mu’in. "Jika dia jodohmu, Allah Swt. akan membuat skenario yang lebih baik daripada pertemuan Nabi Yusuf dan Zulaikha. Jika bukan, minimal kamu sudah khatam kitab tanpa gangguan perasaan."
Suatu hari, temannya yang bernama Sholeh bertanya kepada Luqman. Sholeh sendiri dikenal sebagai santri yang hobi melanggar aturan tetapi takut kualat. "Luqman, kamu itu normal atau tidak, sih? Lihat Fatimah lewat kok malah membaca doa makan?" tanya Sholeh heran. Luqman menjawab dengan tenang, "Bukan doa makan, Leh. Itu doa agar aku tidak 'melahap' godaan setan. Lagipula, dalam kaidah fikih disebutkan: Al-dhararu yuzalu (bahaya itu harus dihilangkan). Nah, jatuh cinta sebelum waktunya itu berbahaya bagi hafalan Alfiyyah-ku karena bisa membuat mubtada’-ku lari dan khabar-nya hilang entah ke mana."
Sholeh tertawa mendengar penjelasan tersebut. "Tetapi kan bisa lewat surat, Man, pakai bahasa sastra Arab sedikit." Luqman menggeleng tegas. "Menulis surat cinta itu makruh bagi santri yang belum khatam Alfiyyah, bahkan bisa jadi haram jika kertasnya hasil meminta punya teman. Aku memilih jalur langit saja. Jalur ini lebih privat dan tanpa perantara operator seluler."
Luqman juga sering merenungi isi kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Dalam kitab tersebut, dijelaskan sebuah hakikat hati: "Setiap hati yang condong untuk mencintai sesuatu selain Allah Ta’ala, maka ia tidak terlepas dari penyakit sesuai dengan kadar kecondongannya, kecuali jika ia mencintai sesuatu itu sebagai penolong baginya untuk mencintai Allah Ta’ala dan agama-Nya. Pada saat itulah hal tersebut tidak menunjukkan adanya penyakit."
Luqman tidak ingin cintanya kepada Fatimah berubah menjadi penyakit hati. Ia tidak ingin saat bersujud, hal yang terbayang bukan kebesaran Allah Swt, melainkan warna kerudung Fatimah yang tadi pagi tidak sengaja dilihatnya di jemuran.
Meskipun ia memilih diam, kadang jiwa puitis santrinya memberontak. Di pojok kitabnya, ia menulis catatan kecil yang hanya bisa dimengerti oleh sesama kaum sarungan. "Hubungan kita itu ibarat idhafah. Kamu mudhaf ilaih-nya dan aku mudhaf-nya. Aku tidak bisa berdiri sendiri tanpamu, tetapi untuk sementara aku harus menyendiri demi ilmu agar kita bisa menjadi satu kalimat yang mufid di masa depan." Namun, segera setelah menulis kalimat itu, ia pasti beristighfar dan menghapusnya. Ia takut jika santri senior melihat, ia akan disuruh menjelaskan i’rab dari tulisan perasaannya itu di depan kelas.
Luqman akhirnya memutuskan untuk terus menutup rapat perasaannya. Ia percaya bahwa pilihannya saat ini merupakan keputusan yang paling tepat. Ia menghabiskan malam-malamnya bukan dengan mengirim pesan rindu. Ia memilih mengisinya dengan muthala’ah kitab dan qiyamullail. Ia teringat sebuah makolah dalam kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah: "Tidak tumbuh dahan-dahan kehinaan, kecuali dari benih ketamakan."
Luqman tidak ingin menghinakan dirinya dengan mengemis perhatian yang belum halal. Ia memilih menjadi mubtada’ yang sabar menunggu khabar-nya datang dari wali santri melalui restu kiai.
Kisah Luqman adalah representasi dari ribuan santri di luar sana. Mereka berjuang melawan gejolak hormon dengan senjata tashrifan. Mereka adalah orang-orang yang percaya bahwa cinta yang dijaga dalam koridor syariat akan berbuah manis di waktu yang tepat. Bagi seorang santri, lebih baik menahan rindu di dunia pesantren daripada menahan malu di hadapan Allah Swt. dan Rasulullah saw. karena melanggar batasan-Nya.
Luqman kembali membuka kitabnya lalu bergumam pelan, "Bismillah, qala muhammadun huwabnu maliki... Fatimah, tunggu aku di pelaminan setelah aku khatam minimal tujuh kitab besar!"