SURABAYA Menanggapi konflik bersenjata yang kembali memanas di Jazirah Arab, PDIP mendesak pemerintah agar kembali pada prinsip politik luar negeri bebas-aktif. Partai ini menilai, dalam situasi geopolitik global yang penuh ketegangan saat ini, Indonesia tak boleh kehilangan arah.
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto melihat dunia sedang dilanda rivalitas antar kekuatan besar, ditambah lagi dengan ketegangan ekonomi dan krisis kemanusiaan di mana-mana. Menurutnya, kondisi semacam ini menuntut sikap yang jelas dan teguh dari Indonesia di panggung internasional.
“Bung Karno telah meletakkan fondasi melalui politik luar negeri bebas-aktif. Indonesia harus berani menyatakan sikap, tetapi tetap menjaga independensi dari pengaruh blok mana pun,” beber Hasto, Senin (30/3/2026).
Bagi PDIP, prinsip bebas-aktif itu bukan cuma kenangan sejarah belaka. Ia adalah doktrin strategis yang masih sangat relevan, terutama di tengah dunia yang semakin multipolar seperti sekarang. Hasto memperingatkan, tanpa sikap yang jelas, negara berkembang seperti Indonesia bisa dengan mudah terseret arus kepentingan global yang seringkali tak sejalan dengan kepentingan nasional kita sendiri.
Karena itulah, posisi Indonesia haruslah sebagai kekuatan penyeimbang. Peran kita adalah mendorong nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian. Itu semua sesuai dengan amanat konstitusi, terutama Pembukaan UUD 1945.
Hasto lalu mengajak kita melihat ke belakang. Peran strategis Indonesia, katanya, pernah diperlihatkan dengan gemilang pada Konferensi Asia Afrika 1955. Saat itu, Indonesia tampil sebagai pelopor solidaritas global yang menolak dominasi kekuatan-kekuatan besar.
Artikel Terkait
Ahli Hukum Pidana Beda-beda Kerugian Negara dan Berkurangnya Keuntungan BUMN di Sidang Korupsi LNG
AAUI Ingatkan Industri Asuransi Waspadai Dampak El Niño Godzilla
Tersangka Kekerasan Seksual di Jakarta Pusat Ditangkap, Konfrontasi Berujung Ricuh
Bulan Purnama Pink Moon Akan Terlihat di Indonesia pada 2 April 2026