Bonus Demografi Belum Optimal, Tenaga Pemasar Asuransi Jadi Alternatif Wirausaha

- Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:30 WIB
Bonus Demografi Belum Optimal, Tenaga Pemasar Asuransi Jadi Alternatif Wirausaha

Indonesia sedang menikmati apa yang banyak disebut sebagai bonus demografi. Lihat saja, lebih dari separuh populasi kita sekarang didominasi Generasi Z dan milenial usia produktif yang seharusnya jadi mesin pertumbuhan. Tapi, benarkah begitu mudahnya?

Nyatanya, jumlah usia produktif yang besar tak serta-merta menciptakan lapangan kerja. Rasio kewirausahaan kita, yang cuma sekitar 3,29% di tahun 2025, membuktikan bahwa jalan menjadi pengusaha masih sepi peminat. Masalahnya kompleks. Bukan cuma soal mentalitas, tapi juga akses ke peluang yang benar-benar feasible, terutama yang tak butuh modal gede-gedean.

Di sinilah peran tenaga pemasar, sering kali dipandang sebelah mata, justru muncul. Banyak orang masih menganggapnya sekadar "jualan". Padahal, kalau dicermati, karakternya lebih mirip wirausaha.

Coba bayangkan. Mereka membangun relasi sendiri, mengatur waktu sendiri, dan mengejar target yang mereka tetapkan. Pada dasarnya, ini adalah bisnis personal. Fleksibilitasnya jauh dari kesan kaku pekerjaan kantoran biasa.

Di industri asuransi, peran ini bahkan lebih dalam. Mereka bukan cuma menawarkan polis, tapi sering jadi jembatan pertama masyarakat memahami literasi keuangan.

Memang, membangun usaha sendiri terdengar menggiurkan. Tapi begitu dihadapkan pada realita sewa tempat, stok, promosi, risiko rugi banyak yang akhirnya mundur teratur. Modal kerap jadi penghalang utama.

Di sisi lain, dunia kerja juga berubah. Generasi muda sekarang banyak yang ogah dengan pola karier konvensional nan kaku. Mereka mencari sesuatu yang lebih luwes, tapi tetap punya ruang berkembang.

Nah, dalam konteks inilah profesi tenaga pemasar, khususnya di asuransi, mulai dilirik sebagai alternatif.

Kisah Raka Rosadi Putra bisa jadi contoh. Sebagai agency builder di Prudential Syariah, ia awalnya skeptis. Tapi setelah membandingkan berbagai opsi usaha dari segi risiko dan potensi, justru profesi inilah yang dinilainya paling masuk akal.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar