Manila – Jalanan di Metro Manila terasa aneh akhir-akhir ini. Biasanya macet total, sekarang justru lengang. Tapi jangan salah, ini bukan kabar baik. Kelancaran yang ada justru bikin hati was-was.
Penyebabnya? Harga bahan bakar minyak yang melambung tinggi. Konflik di Selat Hormuz, yang dipicu operasi militer AS dan Israel terhadap Iran sebulan lalu, langsung mengguncang pasar energi global. Filipina pun kena getahnya.
Dampaknya nyata. Perjalanan dari Bandara Manila ke Balai Kota Quezon City yang biasanya makan waktu dua jam, kini cuma 45 menit. Cepat, ya? Tapi ini pertanda buruk. Begitu buruknya, sampai Presiden Ferdinand Marcos Jr. terpaksa menetapkan status Darurat Energi Nasional selama setahun penuh, mulai 25 Maret lalu.
Suasana ini mengingatkan pada masa-masa lockdown COVID-19 dulu. Sepi. Dan ekonomi seperti kehilangan napas.
Dilema di Garis Depan Kemiskinan
Di balik kesunyian itu, ada cerita pilu. Di kawasan Gereja Baclaran yang biasanya ramai, Ruben (27) seorang juru parkir, tampak lesu. Ia sudah bekerja lebih dari 12 jam sejak subuh, tapi penghasilannya cuma sekitar $6 dari tips. Jauh dari pendapatan normalnya.
"Artinya, perut keluarga saya akan lebih sering kosong," ujarnya lirih.
Cerita serupa datang dari Emily Ruado. Perempuan 59 tahun yang berjualan tisu ini mengeluh. Penghasilannya anjlok dari $10 jadi cuma $5 sehari sejak BBM naik. "Kami cuma sekadar bertahan hidup," katanya pada Al Jazeera. Kata-kata itu mewakili banyak orang.
Ancaman Stagnasi: Bukan Cuma Urusan Pribadi
Masalahnya ternyata lebih dalam. Krisis ini mengancam perekonomian nasional secara keseluruhan. Sebelum konflik Iran memanas, proyeksi pertumbuhan PDB Filipina masih di angka 5 persen. Sekarang? Target itu terasa semakin jauh. Biaya logistik dan harga sembako yang ikut meroket bikin semua perhitungan berantakan.
Ada ironi pahit di sini. Transportasi umum seperti jeepney dan bus banyak yang mangkrak karena tak sanggup bayar BBM. Alhasil, stasiun kereta yang jumlahnya terbatas itu jadi penuh sesak. Penumpukan penumpang di jam sibuk jadi pemandangan sehari-hari.
Fenomena ini seperti membuka borok lama. Ia menyingkap ketidaksiapan infrastruktur transportasi massal negara. Sekaligus mengingatkan publik pada skandal korupsi proyek infrastruktur miliaran dolar yang belum juga tuntas.
Kini, di tengah suasana Pekan Suci, Manila seperti kota yang terjebak. Jalanan sepi, tapi justru di situlah ancaman ekonomi yang melambat mengintai. Sebuah paradoks yang menyakitkan.
Penulis: Fityan | Editor: Redaksi TVRINews
Artikel Terkait
Polisi Duga Sopir Mobil Anggota DPR di Tol Probolinggo Alami Kelelahan hingga Antuk
Kaka Amrullah Ronaldo Messi Debut di Laga Pamungkas, PSM Makassar Kalah 0-2 dari Madura United
Polda Sumsel Ungkap Tujuh Kasus Begal Sepanjang Mei 2026
Presiden Prabowo Resmikan Renovasi Museum dan Perpustakaan Seskoad Bandung