Manila – Jalanan di Metro Manila terasa aneh akhir-akhir ini. Biasanya macet total, sekarang justru lengang. Tapi jangan salah, ini bukan kabar baik. Kelancaran yang ada justru bikin hati was-was.
Penyebabnya? Harga bahan bakar minyak yang melambung tinggi. Konflik di Selat Hormuz, yang dipicu operasi militer AS dan Israel terhadap Iran sebulan lalu, langsung mengguncang pasar energi global. Filipina pun kena getahnya.
Dampaknya nyata. Perjalanan dari Bandara Manila ke Balai Kota Quezon City yang biasanya makan waktu dua jam, kini cuma 45 menit. Cepat, ya? Tapi ini pertanda buruk. Begitu buruknya, sampai Presiden Ferdinand Marcos Jr. terpaksa menetapkan status Darurat Energi Nasional selama setahun penuh, mulai 25 Maret lalu.
Suasana ini mengingatkan pada masa-masa lockdown COVID-19 dulu. Sepi. Dan ekonomi seperti kehilangan napas.
Dilema di Garis Depan Kemiskinan
Di balik kesunyian itu, ada cerita pilu. Di kawasan Gereja Baclaran yang biasanya ramai, Ruben (27) seorang juru parkir, tampak lesu. Ia sudah bekerja lebih dari 12 jam sejak subuh, tapi penghasilannya cuma sekitar $6 dari tips. Jauh dari pendapatan normalnya.
"Artinya, perut keluarga saya akan lebih sering kosong," ujarnya lirih.
Artikel Terkait
YeePay Luncurkan Solusi Pembayaran Global untuk Jawab Geliat Pariwisata Tiongkok di ITB Berlin
Pelatih PSBS Biak Buka Suara Soal Tunggakan Gaji Pemain yang Telah Dua Bulan
Iran Serang Pangkalan AS di Arab Saudi, Belasan Tentara AS Terluka
Arus Balik Lebaran 2026 Masih Dominan di Terminal Guntur Garut