Ambil contoh Stasiun Ampera. Lokasinya yang strategis menjadi gerbang utama menuju pusat keramaian warga, seperti Pasar 16 Ilir dan kawasan wisata Benteng Kuto Besak. Dampaknya langsung terasa. Pedagang di sekitar stasiun ramai dikunjungi, transaksi meningkat. Aida menyebutnya sebagai ‘dampak pengganda’ yang menguntungkan bagi ekonomi kerakyatan.
Di sisi lain, upaya pemberdayaan juga merambah ke sektor UMKM. Pengelola dengan sengaja menyediakan ruang ritel di beberapa stasiun, seperti Asrama Haji dan DJKA. Di sana, pengunjung bisa menemukan beragam produk lokal, dari kerajinan tangan hingga kuliner khas yang menggiurkan.
"Kami berupaya memberikan nilai tambah melalui pemberdayaan UMKM lokal. Harapannya, kehadiran LRT Sumsel memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," lanjut Aida.
Pengalaman Achyar, salah seorang pemudik, bisa jadi gambaran. Ia mengaku sangat terbantu dengan akses yang mudah ini. Sebelum pulang ke kampung halaman, ia sempatkan mampir ke Sentral Kampung Pempek dekat stasiun untuk beli oleh-oleh.
"Cari oleh-oleh di sini lebih mudah dan harganya tetap kompetitif," katanya.
Kini, meski masa angkutan Lebaran telah usai, gelombang positifnya masih terasa. Pencapaian ini diharapkan bukan sekadar euforia musiman, melainkan bisa jadi standar baru. Standar di mana transportasi publik yang baik tak cuma memindahkan orang dari titik A ke B, tapi juga jadi motor penggerak ekonomi daerah yang nyata.
Palembang, dengan LRT-nya, sedang menunjukkan bagaimana kedua hal itu bisa berjalan beriringan.
Artikel Terkait
Mantan Menhan Juwono Sudarsono Wafat di Jakarta
22 Migran Tewas dalam Penyelamatan Kapal di Perairan Kreta
Studi UI: Krisis Selat Hormuz 2026 Berdampak Asimetris pada BUMN, Ada yang Tertekan Ada yang Diuntungkan
Anggota DPRD Palembang Dukung Pembatasan Akun Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun