Dihubungi terpisah, AKBP M Taufiq justru merespons usulan nominasi award itu dengan santai. Baginya, yang utama bukan penghargaan.
“Yang penting saya kerja-kerja aja,” ucap Taufiq ringan. “Bisa berkawan dengan semua masyarakat, enak ngopi santai, itu sudah cukup.”
Dia lalu menjelaskan lebih detail soal program andalannya. Jumat Berkah adalah momen bagi sembako sekaligus mendengar aspirasi warga. Sementara Rabu Berkah lebih ke safari subuh, menyampaikan pesan kamtibmas. Keduanya adalah ikon selama dia memimpin, dan tak jarang dia mengeluarkan kocek pribadi untuk mendanainya.
“Intinya kan pemeliharaan kamtibmas. Kita mengedepankan yang preventif, humanis, dan dekat dengan masyarakat,” jelasnya.
Soal penegakan hukum, Taufiq mengakui adaptasi dengan kearifan lokal Aceh Tengah sangat penting. Masyarakat di sini masih kuat memegang adat. Karena itu, mediasi selalu jadi opsi pertama untuk kasus-kasus ringan, melibatkan tokoh agama dan adat.
“Kami berpendapat, membuat laporan polisi atau ke ranah hukum itu alternatif terakhir,” tegasnya.
“Tapi ya jelas, untuk kasus berat seperti narkoba atau kekerasan serius, pasti kita proses hukum. Tidak bisa ditolerir.”
Cerita tentang aksi tanggap bencananya dia anggap hal biasa. Bagi Taufiq, menembus daerah terisolasi itu semata-mata panggilan tugas. “Setidaknya dari kepolisian ada yang berbuat. Walaupun bawaannya cuma sembako, kehadiran itu yang penting,” imbuhnya.
Rupanya, bagi dia dan juga bagi warga yang merasakan langsung kepemimpinannya, kerja nyata berbicara lebih keras daripada segudang penghargaan.
Artikel Terkait
Mitra MBG Minta Maaf Usai Video Joget di Dapur Gizi Viral dan Berujung Sanksi
Polisi Sebut Kelalaian Pengemudi Jadi Penyebab Taksi Online Nyemplung ke Kolam Bundaran HI
Program Mudik ke Jakarta Raup Rp21 Triliun, Diprediksi Tembus Rp25 Triliun
Arus Balik Lebaran 2026 Mereda, 58 Persen Pemudik Sudah Kembali ke Jakarta