Indra Wijaya, sang pelatih tunggal putra utama PP PBSI, punya satu catatan penting untuk Alwi Farhan. Konsistensi. Itulah PR besar yang harus segera diselesaikan pemain muda itu jika ingin bertahan di papan atas dunia.
Pernyataan itu muncul setelah rangkaian penampilan Alwi di Tur Eropa 2026. Ia sempat mengejutkan dengan melaju ke perempat final All England, turnamen Super 1000 yang prestisius itu. Tak berhenti di situ, di Swiss Open (Super 300), ia bahkan melangkah sampai ke babak final. Performanya memang menunjukkan grafik naik, tapi bagi Indra, masih ada yang kurang.
“Masih ada yang harus ditingkatkan,” ujar Indra lewat keterangan resmi PP PBSI, Selasa lalu.
“Terutama dari sisi fisik, pengontrolan emosi di lapangan, dan penguasaan permainan saat menghadapi berbagai tipe lawan,” lanjutnya.
Soal fisik ini bukan omong kosong. Jadwal turnamen elite itu padat dan kejam. Daya tahan tubuh harus benar-benar prima agar kualitas permainan tidak anjlok di tengah jalan. Selain itu, ada aspek lain yang kerap jadi penentu: mental. Kematangan dalam mengendalikan emosi, terutama di saat tekanan datang menghimpit, seringkali jadi pembeda antara pemain bagus dan pemain juara.
Naik-turunnya Alwi di Eropa bisa jadi gambaran. Lihat saja perjalanannya di Swiss Open. Semifinal ia tampil gemilang, menumbangkan unggulan pertama asal Tiongkok, Li Shifeng, dengan dua gim langsung. Tapi ajaibnya, di partai puncak, performanya seperti menguap. Alwi takluk dari wakil Jepang, Yushi Tanaka, dengan skor yang cukup telak: 18-21 dan 12-21.
Menurut Indra, faktor pemulihan atau recovery pasca-pertandingan juga krusial. Ini yang menentukan apakah seorang atlet bisa tampil stabil dari satu match ke match berikutnya.
“Dengan jadwal yang cukup padat, recovery menjadi sangat penting agar performa bisa tetap stabil,” tegasnya.
Di sisi lain, rangkaian Tur Eropa ini jelas bukan perjalanan sia-sia. Indra berharap semua pengalaman itu yang manis dan yang pahit bisa jadi modal berharga. Bekal untuk mengasah kualitas dan memperkokoh daya saing Alwi di pentas elite. Tantangannya jelas: bagaimana mengubah potensi yang menjanjikan itu menjadi hasil yang konsisten.
Artikel Terkait
Bom Rakitan Meledak di Halaman Sekolah Brasil, 10 Remaja Terluka
Kebakaran di Kontrakan Ciracas Hanguskan 300 Meter Persegi, 15 Jiwa Selamat
Tiga Pendaki Masih Hilang Pascaserupsi Gunung Dukono, Tim SAR Perluas Pencarian
Marcos Peringatkan Pemimpin ASEAN soal Dampak Jangka Panjang Konflik Global