Operasi sekarang difokuskan di wilayah Maybrat dan jalur-jalur hutan yang diduga jadi rute pelarian. Pengamanan juga diperketat, siaga ditingkatkan. Tujuannya jelas: mencegah terulangnya insiden serupa.
Brigjen Slamet menambahkan, upaya pengamanan sudah dipersiapkan lebih matang. Titik-titik rawan sudah dipetakan, koordinasi antar satuan diperkuat.
“Kami sudah memetakan daerah rawan, termasuk penambahan pasukan dan penguatan intelijen. Identitas kelompok pelaku sudah kami kantongi, namun akan disampaikan setelah terkonfirmasi penuh di lapangan,” katanya.
Strateginya, pembagian sektor operasi antara Korem dan Satgas Habema. Dengan begitu, respons terhadap gangguan bisa lebih cepat dan tepat.
“Dengan sektor yang sudah terbagi, kita bisa saling menutup celah. Jika ada gangguan di lapangan, tindakan bisa segera dilakukan,” jelasnya.
Ke depan, rencana penambahan personel dan jaringan intelijen sedang digodok. Semua untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Meski nama pelaku sudah ada di tangan, pihak TNI masih menahan diri untuk mengumumkannya. Mereka ingin memastikan semuanya akurat.
“Sudah ada indikasinya, tapi akan kami sampaikan setelah benar-benar A1 di lapangan,” pungkas Slamet Riyadi.
Artikel Terkait
Tayangan Spesial BTS Puncaki Tangga Lagu Netflix di 77 Negara
Tim Advokasi Desak Puspom TNI Rilis Foto Empat Prajurit Tersangka Penyiraman Aktivis
Harga BBM Nasional Tetap Stabil Meski Konflik Timur Tengak Picu Ketegangan Global
Misteri Batu Berjalan di Death Valley Terpecahkan Berkat Es dan Angin