Stok Beras Nasional Diproyeksikan Capai 6 Juta Ton, Kapasitas Gudang Bulog Jadi Tantangan

- Minggu, 22 Maret 2026 | 06:45 WIB
Stok Beras Nasional Diproyeksikan Capai 6 Juta Ton, Kapasitas Gudang Bulog Jadi Tantangan

Tapi ya tetap saja, mengelola stok sebesar 6 juta ton adalah tantangan berat. Bulog belum punya pengalaman menangani volume sebanyak itu dalam satu waktu. Perencanaan yang matang, berbasis data, dan didukung sistem manajemen modern jadi keharusan.

Untungnya, sejumlah langkah antisipatif sudah disiapkan. Bulog akan tingkatkan penyerapan gabah dan beras dari petani dengan harga kompetitif Rp6.500 per kilogram. Ada juga dukungan pendanaan dari pemerintah lewat Operator Investasi Pemerintah senilai Rp16,5 triliun. Plus, tentu saja, pemanfaatan gudang tambahan dan pengaturan distribusi yang lebih efisien. Dengan cara-cara itu, Bulog memproyeksikan cadangan beras pemerintah cukup sampai akhir tahun.

Cadangan Beras: Dukungan Kebijakan

Pemerintah sendiri nggak tinggal diam. Beberapa kebijakan pendukung sudah disiapkan untuk memperkuat cadangan. Misalnya, menambah target serapan dalam negeri sebesar 1 juta ton. Lalu, meningkatkan kapasitas gudang, baik dengan membangun baru atau kerja sama pemanfaatan fasilitas yang ada. Dukungan pendanaan untuk operasional Bulog juga diperkuat.

Kebijakan di sektor hulu pun digenjot. Kuota pupuk bersubsidi ditingkatkan, sistem distribusinya diperbaiki, dan harga gabah petani ditetapkan Rp6.500 per kilogram. Tujuannya jelas: mendorong produksi dalam negeri. Kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan dari petani, penggilingan padi, hingga instansi lintas sektor juga diperkuat agar rantai pasok berjalan optimal.

Harapannya, semua upaya ini bakal memperkuat ketahanan pangan nasional dan menjaga stabilitas harga. Biar manfaat dari peningkatan produksi benar-benar dirasakan masyarakat luas.

Namun, satu pertanyaan besar masih menggantung: apakah Bulog sebagai operator pangan nasional benar-benar siap menghadapi lonjakan stok skala besar ini? Kesiapan itu nggak cuma soal infrastruktur, tapi juga kapasitas manajerial dan koordinasi lintas sektor. Inilah pekerjaan rumah yang berat. Bukan cuma urusan teknis, tapi menyangkut kehormatan dan tanggung jawab menjaga kedaulatan pangan kita di tengas dinamika global yang makin kompleks.

") Entang Sastraatmadja adalah anggota Dewan Pakar DPN HKTI.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar