Bagi kebanyakan orang, gemuruh takbir dan aroma ketupat adalah tanda telah tiba saatnya berkumpul. Idulfitri, ya, momen itu. Saat sukacita dan rindu akhirnya terbayar dalam pelukan keluarga. Tapi coba tengok ke Pelabuhan Merak. Di sana, di atas geladak kapal yang siap berlayar, ada seorang lelaki bernama Cecep Ahmaydi.
Sudah 25 tahun Lebaran baginya punya arti yang berbeda. Bukan tentang duduk manis di rumah, melainkan tentang memegang kemudi. Sejak 2008 ia menjadi nahkoda, dan totalnya sudah seperempat abad ia tak pernah merasakan lebaran di tengah sanak saudara. “Pelayanan itu yang utama,” ujarnya, ditemui di atas KMP Sebuku akhir pekan lalu.
“Tugas kita kan begitu. Biar nggak berlebaran, yang penting para pemakai jasa bisa kita hantarkan ke seberang.”
Suaranya tenang, menerima. Bagi Cecep, mengantarkan pemudik yang masih terdampar di perjalanan saat hari raya tiba adalah wujud loyalitas. Sebuah bentuk profesionalitas yang ia jalani dengan ikhlas. “Kita sudah terbiasa,” katanya lagi. Tugasnya memang tak kenal hari libur: menghubungkan Merak dan Bakauheni, bolak-balik, tak peduli tanggal merah di kalender.
Artikel Terkait
Elkan Baggott Kembali Perkuat Timnas Indonesia di FIFA Series 2026
Netanyahu Bertekad Balas Serangan Rudal Iran Usai Fasilitas Nuklir Dimona Disasar
Juventus Gagal Maksimalkan Peluang, Imbangi Sassuolo 1-1 di Turin
Korlantas Siapkan Tol Fungsional dan Dua Gelombang Arus Balik Lebaran 2026