Namun begitu, di balik ketegasan itu ada sesuatu yang selalu tersisa. Kerinduan. Ia mengaku, setiap mendengar lantunan takbir, hatinya selalu tertarik pulang. Terbayang wajah anak-anak yang menunggu. “Oh, pastinya seperti itu. Manusiawi,” ucapnya dengan senyum getir. “Kita tetap ada rasa kangen.”
Anak-anaknya pun kerap meminta. Mohon agar sang ayah bisa satu meja makan saat hari yang fitri. Tapi Cecep hanya bisa menghela napas. Tuntutan pekerjaan, tanggung jawab pada ribuan penumpang, membuatnya harus menepikan kerinduan itu. “Ada keinginan, tapi karena tugas utama kita memberikan pelayanan, ya itu yang harus dijalani,” tuturnya.
Dari semua pengorbanan itu, harapannya sederhana saja. Ia ingin setiap penumpangnya tiba dengan selamat. Cuaca baik, kapal sehat, dan semua proses penyeberangan berjalan lancar serta tertib. Itulah ‘salam Lebaran’-nya: sebuah perjalanan aman menuju pelukan keluarga orang lain.
Sedangkan pelukannya sendiri, masih harus ditunda.
Artikel Terkait
Elkan Baggott Kembali Perkuat Timnas Indonesia di FIFA Series 2026
Netanyahu Bertekad Balas Serangan Rudal Iran Usai Fasilitas Nuklir Dimona Disasar
Juventus Gagal Maksimalkan Peluang, Imbangi Sassuolo 1-1 di Turin
Korlantas Siapkan Tol Fungsional dan Dua Gelombang Arus Balik Lebaran 2026