“Karena ibunya sakit, Fendi berhenti sekolah. Tidak ada support dari orang tua karena keduanya sakit,” jelas Wahono.
Ia menggambarkan betapa dekatnya Fendi dengan ibunya. “Fendi itu selalu merawat ibunya, memegangi, memberi minum. Kehadirannya bisa membuat ibunya tersenyum,” tambahnya.
Berbagai upaya sebenarnya sudah dilakukan untuk mengembalikan Fendi ke sekolah. Keluarga, pihak sekolah, hingga warga sudah mencoba. Bahkan, ada tawaran menggiurkan: sekolah gratis di sebuah panti asuhan di Bantul. Sayangnya, Fendi menolak.
Alasannya polos dan membuat hati trenyuh. “Kalau di panti pulangnya beberapa bulan sekali. Fendi tidak mau jauh dari ibunya,” kata Wahono.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sendiri dikabarkan telah berkomitmen untuk membantu. Mereka berjanji akan memfasilitasi Fendi kembali bersekolah dengan pendekatan khusus, sekaligus memastikan orang tuanya mendapat penanganan kesehatan yang layak.
Kunjungan Pasbata ini, meski mungkin terlihat kecil, adalah sebentuk aksi nyata. Ia mengingatkan kita pada semangat gotong royong yang seharusnya tak pernah padam. Intinya sederhana: memastikan tidak ada anak, seperti Fendi, yang masa depannya terkubur oleh keadaan.
Artikel Terkait
Lapas dan Rutan di Jakarta Buka Kunjungan Keluarga Saat Lebaran
Arus Mudik Lebaran 2026 Pecahkan Rekor, 270 Ribu Kendaraan di Jalan Tol
Polisi Cianjur Putar Balik Rombongan Pawai Bedug demi Keselamatan dan Kelancaran Mudik
Bandara SMB II Palembang Catat Kenaikan 10,5% Pergerakan Pesawat Menjelang Lebaran 2026