Hujan deras sempat menguji sore harinya, membuat pemasangan ornamen tertunda. Baru sekitar pukul 22.30 WIB, rakik sepanjang sepuluh meter itu akhirnya berlayar. Lampu-lampu di depannya berkerlip, memantulkan cahaya gemulai di permukaan danau yang gelap. Rakit itu sendiri dihiasi warna-warni, bendera, dan miniatur rumah adat Minangkabau yang berdiri tegak.
Anak-anak riang, orang dewasa terlihat larut. Ada yang sibuk memotret, ada pula yang sekadar jalan-jalan di tepian sambil mengobrol dengan sanak saudara. Kemeriahan memuncak ketika dentuman gendang tambua tansa dan batuang meriam bambu menggelegar. Bunyinya memekakkan telinga, mengisi langit malam. Untuk batuang, warga menggunakan kalsium karbida, senyawa kristal kehitaman yang bereaksi dengan air menghasilkan gas berdentum keras.
Menurut Puja, warga lain yang ikut menunggu, biasanya festival berlangsung dua malam: takbiran dan hari pertama Lebaran. Tahun ini, penonton di hari pertama agak berkurang. Rakit dari jorong lain belum siap. Tapi antusiasme? Itu tak surut.
"Ini makin malam biasa makan ramai, tahun lalu bisa sampai jam 4 atau jam 5 subuh," katanya.
Memang, keramaian mungkin belum kembali seperti sebelum bencana. Tapi di balik gemerlap lampu rakik yang melintas pelan, ada pesan yang lebih terang: semangat warga Maninjau untuk bangkit dan merayakan kehidupan, tak pernah padam.
Artikel Terkait
Remaja Cianjur Diamankan Saat Takbiran Keliling Bawa Miras Oplosan
Lapas dan Rutan di Jakarta Buka Kunjungan Keluarga Saat Lebaran
Arus Mudik Lebaran 2026 Pecahkan Rekor, 270 Ribu Kendaraan di Jalan Tol
Polisi Cianjur Putar Balik Rombongan Pawai Bedug demi Keselamatan dan Kelancaran Mudik