Iran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone, yang sasarannya adalah berbagai lokasi dengan kehadiran militer Amerika. Inilah salah satu pemicu utama lonjakan korban luka di pihak AS.
Di sisi lain, pejabat AS menyebut fokus serangan mereka belakangan ini adalah melumpuhkan peluncur rudal dan gudang drone Iran. Tujuannya jelas: memotong kemampuan Teheran untuk membalas.
Namun begitu, korban jiwa pun tak terhindarkan. Hingga kini, tercatat 13 tentara AS tewas. Tujuh di antaranya gugur akibat serangan langsung.
Enam lainnya meninggal di Irak dalam sebuah insiden yang cukup rumit. Sebuah pesawat pengisian bahan bakar KC-135 mengalami kecelakaan yang diduga melibatkan pesawat lain.
Di antara serangan yang terjadi, salah satu yang paling mematikan berlangsung di Pelabuhan Shuaiba, Kuwait, tepat di hari pertama konflik. Sebuah drone menghantam pusat operasi taktis dan merenggut nyawa enam tentara Amerika. Korban jiwa juga berjatuhan di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi, di mana seorang tentara meninggal akibat luka-luka yang dideritanya.
Gambaran ini menunjukkan betapa konflik yang meluas telah menimbulkan konsekuensi nyata, jauh dari sekadar angka-angka di atas kertas.
Artikel Terkait
Arus Mudik Lebaran di Stasiun Jakarta Capai 52 Ribu Penumpang per Hari
Harga Sembako Melonjak di Pasar Lebak Jelang Idulfitri 2026
Karyawan Freeport Indonesia Santuni 700 Anak Yatim dan Dhuafa di Momen Ramadan
Pemerintah Perketat Pengawasan Harga Pangan Jelang Ramadan dan Lebaran