Washington Konflik di Timur Tengah ternyata telah menorehkan catatan kelam bagi militer AS. Sejak ketegangan dengan Iran memanas akhir Februari lalu, lebih dari dua ratus personel Amerika dilaporkan mengalami luka-luka. Mereka tersebar di tujuh negara berbeda di kawasan itu.
Kapten Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat AS, mengonfirmasi angka tersebut pada Senin lalu. Menurutnya, kabar baiknya adalah sebagian besar korban hanya mengalami cedera ringan.
“Sebagian besar dari luka tersebut bersifat ringan, dan lebih dari 180 personel telah kembali bertugas,” ucap Hawkins, seperti dikutip dari TRT World, Rabu (18/3/2026).
“10 orang dikategorikan mengalami luka serius,” tambahnya.
Lokasi kejadiannya mencakup Bahrain, Irak, Israel, Yordania, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Rincian dari Hawkins ini dianggap sebagai yang paling lengkap sejauh ini untuk menggambarkan dampak nyata perang terhadap pasukan AS di lapangan. Sebelumnya, Pentagon hanya melaporkan sekitar 140 tentara yang terluka per 10 Maret. Peningkatan angka luka serius menjadi sepuluh orang terjadi setelah dua personel yang cedera di awal konflik diklasifikasikan ulang sebagai korban berat.
Memang, situasinya sudah berubah drastis sejak 28 Februari. Saat itulah perang terbuka antara AS-Israel melawan Iran dimulai, memicu rentetan serangan balasan yang membuat kawasan ini makin berdarah.
Artikel Terkait
Arus Mudik Lebaran di Stasiun Jakarta Capai 52 Ribu Penumpang per Hari
Harga Sembako Melonjak di Pasar Lebak Jelang Idulfitri 2026
Karyawan Freeport Indonesia Santuni 700 Anak Yatim dan Dhuafa di Momen Ramadan
Pemerintah Perketat Pengawasan Harga Pangan Jelang Ramadan dan Lebaran