Dia pun datang lengkap dengan perlengkapan bikepacking. Tas sepedanya memuat tenda, sleeping bag, kompor portabel, bahkan alat untuk menyeduh kopi. Persiapan yang matang untuk sebuah perjalanan mandiri.
"Satu-satunya hiburan ya naik sepeda ini," tuturnya sambil tertawa.
"Kalau istirahat biasanya cari posko mudik. Orang-orang di jalan juga baik, tadi aja di Cikupa ada yang kasih kopi dingin," kenangnya.
Tahun ini agak spesial karena pertama kalinya dia lewat Pelabuhan Ciwandan, mengikuti pengalihan arus mudik untuk roda dua. Dia memperkirakan akan tiba di Palembang tepat pada malam takbiran, tanggal 20 April.
Pilihannya ini sempat dipertanyakan keluarganya. Tapi Verri teguh. Selain lebih hemat sekitar Rp 28.500 lebih murah dari tiket transportasi umum ini soal dedikasi pada hobi yang dicintainya.
"Orang tua dan istri sering tanya, 'Ngapain susah-susah naik sepeda?'. Ya karena ini hobi saya. Jalani aja," ucapnya polos.
Setelah merayakan Idul Fitri bersama orang tua, rencananya Verri akan kembali ke Serpong dengan cara yang sama. Kembali mengayuh, menempuh ratusan kilometer aspal Sumatera. Bagi sebagian orang mungkin melelahkan, tapi bagi Verri, itulah cara mudik yang paling bermakna.
Artikel Terkait
Menhub Prediksi Puncak Mudik Roda Dua di Pelabuhan Ciwandan 18-19 Maret
Pria Diamankan Usai Coba Mencuri di Masjid Istiqlal Saat Iktikaf
Iran Akui Ali Larijani, Pejabat Keamanan Senior, Tewas dalam Serangan Israel
Pemudik Rela Begadang Demi Tiket Kereta di Puncak Arus Mudik Lebaran