Gelombang penolakan ini, menurut laporan, membuat Presiden Donald Trump frustrasi. Dari tujuh negara yang dimintai bantuan, mayoritas menolak dengan alasan klasik: ini bukan perang kami, dan kami tak mau terseret konflik yang lebih luas.
Respons Trump pun keras. Ia tak segan mengkritik terbuka dan bahkan mengancam masa depan kerja sama pertahanan, khususnya NATO. Ia memperingatkan bahwa penolakan ini akan berakibat buruk bagi aliansi, dan menuntut balas budi atas perlindungan AS selama ini. Inggris, yang diharapkannya terlibat, justru jadi sasaran kekecewaannya.
Lalu, apa yang mendasari penolakan massal ini? Ternyata, tekanan publik di Eropa luar biasa besar. Demonstrasi terjadi di lebih dari 150 kota, termasuk London, Paris, dan Berlin. Warga menuntut pemerintahnya tidak ikut campur dalam perang AS dan Israel melawan Iran. Kekhawatiran akan melonjaknya harga energi dan risiko serangan balasan di tanah air mereka terasa sangat nyata.
Ada faktor lain yang mungkin kurang terlihat. Pakar geopolitik Raymond Sihombing punya analisis menarik. Menurutnya, negara-negara Eropa kaget dengan kekuatan militer Iran yang ternyata sangat tangguh. Selain itu, mereka sendiri sedang kehabisan napas.
Kini, Amerika Serikat tampaknya terjepit. Mencari mitra koalisi militer untuk perang Iran ternyata jauh lebih sulit dari perkiraan. Opsi yang tersisa mungkin membujuk negara-negara Teluk. Tapi itu pun tampaknya sulit. Kesadaran mulai tumbuh di kawasan itu: terjun langsung berperang melawan Iran hanya akan merugikan kepentingan nasional mereka sendiri dan membawa instabilitas yang tak berujung.
Artikel Terkait
KBRI Kuala Lumpur Tutup Sementara untuk Libur Nyepi dan Idul Fitri
Menteri Perhubungan Blusukan ke Pelabuhan Merak, Pastikan Kesiapan H-3 Arus Mudik
Pakar Dukung Pembatasan Kuota PTN, Soroti Perluasan Beasiswa dan Pemberdayaan PTS
Bandara Soekarno-Hatta Ramai Penumpang Mudik Lebaran Sejak Dini Hari