Ijtima atau bulan baru diperkirakan terjadi sekitar pukul 08.23 WIB. Tapi, angka-angka hisab ini bukanlah penentu mutlak. Keputusan akhir tetap menunggu hasil pemantauan langsung atau rukyatul hilal yang dilaporkan dari lapangan.
"Penetapannya nunggu laporan hasil rukyat dari seluruh daerah dulu, baru dibahas di sidang isbat," tegas Abu Rokhmad.
Untuk itulah, Kemenag mengerahkan pemantauan di 117 titik se-Indonesia. Pengamatan ini dilakukan bersama Kanwil Kemenag, Pengadilan Agama, hingga ormas Islam di daerah.
Beberapa lokasinya cukup beragam. Di Aceh, misalnya, pemantauan dilakukan dari Observatorium Tgk Chiek Kuta Karang di Lhoknga. Sementara di Jakarta, tim bisa berada di sekitar Monas atau Masjid Raya Hasyim Asy'ari.
Daerah lain juga punya spot andalan. Bandung punya Observatorium Albiruni, Semarang ada Planetarium UIN Walisongo, dan di ujung timur, pantauan dilakukan dari Pantai Lampu Satu Merauke, Papua. Bahkan di Ibu Kota Nusantara (IKN) Kalimantan Timur, pemantauan akan dilakukan dari Rusun ASN Tower.
Intinya, dari Sabang sampai Merauke, mata akan tertuju ke langit barat sore itu. Semua menantikan laporan: apakah hilal terlihat atau tidak. Hasilnya nanti yang akan memutuskan kapan umat Islam merayakan Idul Fitri.
Artikel Terkait
Israel Klaim Hancurkan Pusat Pengembangan Luar Angkasa Militer Iran di Teheran
DKI Gelar Car Free Night dan Gratiskan Transportasi Umum Saat Lebaran
Dishub DKI Siapkan Transportasi Gratis dan Terminal Cadangan untuk Arus Mudik
Labschool UNJ Buka Rekrutmen Besar-besaran untuk Guru di Empat Lokasi