"Contohnya cabai rawit merah, di petani sudah Rp75.000 per kilogram. Mustahil di pasar kita dapat di bawah harga itu, bahkan bisa tembus Rp100.000," jelas Iwan.
Cuaca ekstrem disebut-sebut sebagai biang keroknya. Panen yang berkurang drastis diperparah dengan masalah distribusi. Barang jadi lebih mudah rusak di perjalanan.
"Distribusi terhambat karena hujan, dan tingkat kerusakan produk jadi tinggi. Satu karung bisa sampai hilang 5 kg karena ini," katanya menerangkan soal loss yang terjadi.
Meski harganya tinggi, Iwan memastikan soal ketersediaan barang di pasar tidak perlu dikhawatirkan. Pemerintah Provinsi Banten terus memantau pergerakan stok dari pasar induk hingga ke pedagang kecil.
"Insyaallah, untuk pasokan kita pantau selalu. Dari pasar induk sampai pasar-pasar kecil, stoknya masih tersedia," pungkasnya.
Artikel Terkait
Rustini Kunjungi Korban Tanah Bergerak di Tegal, Huntara Jadi Prioritas
Bareskrim Usut Dugaan Pelecehan Seksual Mantan Pelatih Panjat Tebing terhadap Atlet Putri
Dukcapil Luncurkan Tanda Tangan Digital QR Code untuk Dokumen Kependudukan
Neng Eem Ajak Warga Jeda dan Perkuat Ikatan Sosial di Ramadan